Ekonomi

Dominasi Asia Pasifik dalam Indeks Investasi Asing 2026, Indonesia Alami Penurunan Peringkat

Meskipun mengalami penurunan peringkat dalam Indeks Kepercayaan Investasi Asing, Indonesia tetap menarik bagi investor berkat potensi tenaga kerja, sumber daya alam, dan pasar domestik yang besar.

B
Bagas Prakoso
05 May 2026 6 pembaca
Dominasi Asia Pasifik dalam Indeks Investasi Asing 2026, Indonesia Alami Penurunan Peringkat
Pekerja menyelesaikan pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Senin (7/5). Badan Pusat Statistik (BPS) melansir pertumbuhan ekonomi kuartal 1 2018 mencapai 5,06%.(Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Laporan terbaru dari Kearney melalui Kearney FDI Confidence Index 2026 menunjukkan bahwa kawasan Asia Pasifik menjadi fokus utama bagi investor global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Indeks ini secara historis memiliki hubungan yang kuat dengan arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) di tahun-tahun mendatang.

Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (5/5/2026), responden terdiri dari eksekutif tingkat atas (C-level) dari perusahaan global dengan pendapatan tahunan minimal USD 500 juta, yang mewakili berbagai sektor industri di 30 negara. Hasil survei menunjukkan bahwa sentimen investor masih dipengaruhi oleh volatilitas geopolitik, persaingan teknologi, serta kebijakan industri yang semakin agresif.

Posisi Indonesia dalam Indeks FDI

Sebanyak 10 negara dari Asia Pasifik berhasil masuk dalam daftar FDI Confidence Index 2026, menjadikannya kawasan dengan representasi terbesar dibandingkan wilayah lain. Amerika Serikat tetap berada di posisi teratas, diikuti oleh Kanada, Jepang, dan Tiongkok. Singapura mencatatkan diri di peringkat kedelapan secara global.

Di kawasan Asia Tenggara, arus investasi juga mencapai rekor baru. Sepanjang tahun 2024, aliran FDI ke negara-negara ASEAN mencapai USD 225 miliar. “Arus modal terus mengalir, namun perusahaan kini semakin selektif dalam menentukan tujuan investasi,” ungkap Erik R. Peterson. Dalam kategori pasar berkembang, Indonesia berada di peringkat ke-13 pada tahun 2026, mengalami penurunan satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, beberapa negara ASEAN menunjukkan peningkatan posisi; Thailand naik dari peringkat ke-10 menjadi ke-6, sementara Malaysia meningkat dari peringkat ke-11 ke posisi ke-7.

Daya tarik investasi di Asia Tenggara didorong oleh berbagai faktor utama, seperti kemudahan berusaha, kualitas tenaga kerja, dan stabilitas ekonomi. Thailand dikenal unggul di sektor manufaktur seperti otomotif dan pengolahan makanan, sedangkan Malaysia menonjol dalam industri bernilai tambah tinggi seperti semikonduktor dan teknologi. Indonesia, di sisi lain, memiliki keunggulan dalam besarnya pasar domestik serta kekayaan sumber daya alam.

Sentimen Positif Terhadap Indonesia

Meskipun posisinya menurun, sentimen investor terhadap Indonesia tetap positif di tengah ketidakpastian global. Dalam survei, sebanyak 87% responden menyatakan tetap optimis atau bahkan lebih optimistis terhadap prospek investasi di Indonesia. Kualitas tenaga kerja menjadi faktor utama yang menarik perhatian investor, dengan 28% responden menyebutnya sebagai alasan utama. Dengan populasi hampir 288 juta jiwa, Indonesia menawarkan pasar domestik yang besar serta tenaga kerja melimpah yang menjadi keunggulan kompetitif.

Selain itu, sumber daya alam juga menjadi daya tarik utama dengan porsi 28%. Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, menjadi pusat perhatian dalam rantai pasok global, terutama untuk industri baterai dan kendaraan listrik. Data menunjukkan bahwa sektor logam dasar mencatatkan realisasi FDI tertinggi pada tahun 2025 sebesar USD 14,6 miliar, diikuti oleh sektor pertambangan sebesar USD 4,7 miliar. Faktor lain yang turut diperhitungkan adalah kinerja ekonomi (27%), kemudahan berusaha (25%), serta inovasi teknologi (21%).

Walaupun prospek investasi tetap positif, pelaku bisnis global masih mewaspadai berbagai risiko. Ketegangan geopolitik menjadi faktor yang paling dikhawatirkan dalam satu tahun ke depan, diikuti oleh kenaikan harga komoditas dan ketidakstabilan politik. Kebijakan industri kini juga memainkan peran penting dalam menentukan arah investasi global, dengan 84% investor menilai kebijakan ini sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan investasi.

Namun, hampir 90% investor juga melihat adanya risiko dari kebijakan yang saling bertabrakan antarnegara, yang dapat menciptakan ketidakpastian bisnis. Di kawasan Asia, persaingan semakin ketat dengan fokus pada sektor strategis seperti semikonduktor, kendaraan listrik, dan energi hijau. Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, menilai Indonesia berada di titik penting dalam peta investasi global dan menekankan perlunya penguatan regulasi, percepatan transisi energi, serta peningkatan infrastruktur dan inovasi untuk menjaga daya saing investasi Indonesia di masa depan.

Artikel Terkait