Ekonomi

Dukungan PSN untuk Pembangunan Bandar Antariksa di Biak

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menilai pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua, sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian antariksa nasional di tengah dinamika geopolitik yang men...

Z
Zahra Asma Nabila
12 May 2026 7 pembaca
Dukungan PSN untuk Pembangunan Bandar Antariksa di Biak
Foto: Muhammad Nursyamsi/Republika

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menganggap bahwa pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua, merupakan langkah penting untuk memperkuat kemandirian antariksa Indonesia, terutama di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global dan persaingan teknologi. Direktur Utama PSN, Adi Rahman Adiwoso, menyatakan bahwa akses ke luar angkasa kini menjadi kebutuhan yang krusial bagi setiap negara untuk menjaga kedaulatan dan ketahanan nasional.

Pentingnya Akses ke Luar Angkasa

“Antariksa bukan lagi menjadi sekadar pilihan,” ungkap Adi saat meresmikan operasi Satelit Nusantara Lima (SNL) atau N5 di Hotel JS Luwansa, Jakarta, pada Senin (11/5/2026). Menurutnya, globalisasi dan kemajuan teknologi telah mengubah peta geopolitik dunia, di mana banyak negara mulai membatasi layanan komunikasi, navigasi, dan akses citra penginderaan jauh dari satelit. Dalam kondisi ini, teknologi satelit menjadi salah satu indikator kekuatan dan kemandirian suatu bangsa.

Adi menekankan bahwa Indonesia harus berani mengandalkan kapasitas sendiri dan tidak bergantung pada pihak luar. Ia menegaskan bahwa negara-negara besar saat ini berlomba-lomba untuk membangun sistem, jaringan, dan teknologi satelit mereka sendiri, karena infrastruktur digital bukan hanya masalah bisnis, tetapi juga terkait dengan pertahanan dan keamanan negara.

Keunggulan Strategis Indonesia

Dalam konteks ini, Adi menekankan pentingnya pembangunan bandar antariksa nasional. Ia menjelaskan bahwa posisi Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa memberikan keuntungan strategis untuk peluncuran satelit orbit ekuatorial dan geostasioner. “Indonesia terletak di garis khatulistiwa yang merupakan lahan parkir paling strategis untuk meluncurkan satelit orbit ekuatorial, termasuk geostasioner,” tambahnya.

Adi menyambut baik rencana pembangunan bandar antariksa di Biak melalui kerja sama internasional dengan Rusia, India, dan Turki. Ia menjelaskan bahwa Biak memiliki keunggulan teknis dibandingkan lokasi peluncuran satelit lainnya di dunia, di mana peluncuran dari Biak dapat menghemat bahan bakar hingga 15 persen dan meningkatkan berat muatan hingga 25 persen dibandingkan lokasi seperti Cape Canaveral, Florida.

Namun, Adi juga menegaskan bahwa pembangunan akses ke luar angkasa tidak bisa dilakukan oleh sektor swasta secara mandiri. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, industri, dan mitra internasional sangat diperlukan. “Access to space adalah hal yang tidak dapat diperjuangkan oleh pihak swasta sendiri. Misi besar ini memerlukan orkestrasi bersama,” ujarnya.

Adi menambahkan bahwa PSN telah berinvestasi besar dalam sektor antariksa nasional. Dalam sepuluh tahun terakhir, perusahaan ini telah melaksanakan tiga program satelit geostasioner dengan total investasi lebih dari Rp 23 triliun. “Menuju kemandirian antariksa, kita tidak bisa tetap menjadi pengguna, namun harus menjadi pemain,” tegas Adi.

Artikel Terkait