Ekonomi

Kenaikan Harga Pangan Global Dipicu Biaya Energi yang Meningkat

Harga pangan dunia mengalami kenaikan selama tiga bulan berturut-turut, didorong oleh lonjakan harga minyak nabati dan biaya energi yang tinggi.

T
Taufik Pranata
10 May 2026 6 pembaca
Kenaikan Harga Pangan Global Dipicu Biaya Energi yang Meningkat
Harga pangan dunia naik untuk bulan ketiga berturut-turut pada April 2026. (Khaled DESOUKI / AFP)

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) melaporkan bahwa harga pangan global mengalami peningkatan untuk bulan ketiga berturut-turut pada April 2026. Kenaikan ini disebabkan oleh lonjakan harga minyak nabati serta kenaikan harga sereal dan beras, di tengah tingginya biaya energi. Hal ini disampaikan FAO pada Jumat, 8 Mei 2026, yang dikutip dari Anadolu Agency.

Indeks harga pangan FAO tercatat sebesar 130,7 pada bulan April, meningkat 1,6% dibandingkan dengan revisi bulan Maret dan 2% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Indeks harga minyak nabati FAO naik 5,9% dari Maret, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022, yang didorong oleh harga minyak sawit, kedelai, dan bunga matahari.

Kondisi Pertanian Global dan Dampak Konflik

Maximo Torero, Kepala Ekonom FAO, menyatakan bahwa sistem pertanian global masih menunjukkan ketahanan meskipun ada gangguan yang terkait dengan krisis di Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak nabati sebagian besar disebabkan oleh harga minyak yang lebih tinggi dan permintaan biofuel yang meningkat. Indeks harga sereal FAO juga meningkat 0,8% secara bulanan, mencerminkan kenaikan harga gandum dan jagung. Sementara itu, indeks harga beras mengalami peningkatan sebesar 1,9% akibat kenaikan biaya produksi dan pemasaran yang dipicu oleh harga minyak mentah dan turunannya.

Indeks harga daging FAO mencapai rekor tertinggi baru pada bulan April, dengan kenaikan 1,2% dari Maret dan 6,4% secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga daging sapi. Di sisi lain, indeks harga susu mengalami penurunan sebesar 1,1% dari Maret, sedangkan indeks harga gula merosot 4,7% karena harapan akan pasokan global yang melimpah.

Proyeksi Produksi dan Dampak Ekonomi

FAO juga meningkatkan proyeksi produksi sereal global untuk tahun 2025 menjadi 3,04 miliar ton, naik 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, perkiraan produksi gandum untuk tahun 2026 sedikit diturunkan menjadi 817 juta ton. Ekonom Ibrahim Assu’aibi menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 17.400 per dolar AS mulai berdampak langsung pada masyarakat.

Kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok hingga barang elektronik menjadi sinyal nyata bahwa tekanan eksternal mulai merambat ke kehidupan sehari-hari. Ibrahim menekankan bahwa kombinasi gejolak global dan lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor utama penyebab kenaikan harga di dalam negeri, yang diperparah oleh ketergantungan Indonesia terhadap barang impor.

Ia menambahkan, "Dampak terhadap masyarakat Indonesia sangat signifikan. Saat harga rupiah melemah dan harga minyak mentah meningkat, harga-harga barang juga mengalami kenaikan yang cukup besar." Produk berbasis impor seperti kedelai dan gandum menjadi yang paling terdampak karena transaksi yang menggunakan dolar AS.

Di sisi lain, sektor manufaktur mulai merasakan tekanan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di bawah level 50 menunjukkan adanya kontraksi, menandakan perlambatan aktivitas industri akibat mahalnya bahan baku impor. Ibrahim menyatakan bahwa situasi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik, terutama dengan kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik di Selat Hormuz yang semakin memperbesar tekanan inflasi.

Artikel Terkait