Harga emas yang ditawarkan oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari ini, Jumat (8/5/2026), mengalami penurunan sebesar Rp 1.000 setelah sebelumnya mengalami lonjakan yang signifikan. Saat ini, harga emas Antam tercatat sebesar Rp 2.839.000 per gram, sedangkan pada perdagangan hari Kamis, harga emas tersebut berada di angka Rp 2.840.000 per gram.
Selain itu, harga buyback emas Antam juga mengalami penurunan yang sama, yakni Rp 1.000, sehingga harga buyback hari ini menjadi Rp 2.644.000 per gram. Harga buyback ini merupakan harga yang ditawarkan oleh Antam jika Anda ingin menjual emas Anda.
Rekor Harga Emas Antam
Untuk diketahui, harga emas Antam mencapai rekor tertinggi pada tanggal 29 Januari 2026, dengan harga Rp 3.168.000 per gram. Sementara itu, harga buyback pada saat itu tercatat sebesar Rp 2.989.000 per gram. Informasi mengenai harga emas Antam ini dapat diakses melalui situs resmi Logam Mulia, yang merupakan unit bisnis dari PT Aneka Tambang Tbk, sehingga menjamin akurasi dan kredibilitas data yang disajikan.
Pergerakan Harga Emas Global
Sebelumnya, harga emas global mengalami penguatan dalam tiga sesi berturut-turut pada Kamis, 7 Mei 2026. Kenaikan ini didorong oleh optimisme mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi meredakan kekhawatiran terkait inflasi serta suku bunga yang tinggi.
Menurut CNBC, harga emas spot meningkat 1,1% menjadi USD 4.740,42 per ounce setelah mencapai puncaknya dalam dua minggu terakhir. Harga emas spot juga tercatat naik 1,2% menjadi USD 4.749,20. Di sisi lain, harga perak spot naik 5% menjadi USD 81,19, tertinggi sejak 17 April, sedangkan platinum dan paladium masing-masing naik 1,2% dan 0,1% menjadi USD 2.085,75 dan USD 1.539,01.
Analis RJO Futures, Bob Haberkorn, menyatakan, "Jika gencatan senjata bertahan, dan kita dapat mengakhiri perang ini, dan kembali berbisnis seiring selat yang terbuka, saya dapat melihat harga emas mencapai USD 5.000 per ounce." Ia juga menambahkan bahwa pasar saat ini sedang mengamati situasi di Timur Tengah dan kebijakan yang akan diambil oleh Federal Reserve.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga memprediksi bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir, terutama setelah Iran mempertimbangkan proposal perdamaian dari AS yang dapat mengakhiri konflik sambil menyisakan beberapa tuntutan yang belum diselesaikan, termasuk penangguhan program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Harga minyak mentah juga menunjukkan penurunan, dengan patokan minyak Brent diperdagangkan di bawah USD 100 per barel. Kenaikan biaya energi berpotensi mendorong inflasi, yang dapat membuat para pembuat kebijakan enggan untuk menurunkan suku bunga demi menahan tekanan harga. Dalam situasi seperti ini, emas menjadi kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil dalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi.
Dalam catatan dari TD Securities, terdapat kemungkinan harga emas bisa melampaui USD 5.200 per ounce setelah konflik dan tekanan inflasi akibat minyak mereda. "Pergeseran kebijakan menuju mandat lapangan kerja maksimum oleh Fed di masa mendatang, imbal hasil yang lebih rendah, dan dolar AS yang lebih lemah, ditambah dengan meningkatnya permintaan dari investor dan bank sentral, dapat menghidupkan kembali tren kenaikan harga emas," tambah mereka.
Pasar kini menantikan laporan mengenai lapangan kerja bulanan di AS yang akan dirilis pada hari Jumat untuk menilai langkah kebijakan moneter yang akan diambil oleh Federal Reserve tahun ini. Selain itu, bank sentral China juga dilaporkan menambah stok emas untuk bulan ke-18 berturut-turut pada bulan April, menurut data yang ada.