Industri pengolahan tuna di Indonesia kini memasuki tahap transformasi yang baru. Dengan proyeksi nilai ekspor yang diperkirakan akan melebihi 1 miliar dolar AS pada tahun 2025, sektor ini tidak hanya mengandalkan volume produksi, tetapi juga mulai beralih ke industri yang menekankan nilai tambah serta keberlanjutan, inovasi, dan pendekatan berbasis pasar.
Pentingnya Pendekatan Berbasis Nilai
Thilma Komaling, pemimpin Indonesia Tuna Consortium, menekankan bahwa pendekatan berbasis nilai menjadi sangat penting di tengah tantangan yang dihadapi oleh stok ikan. Ia menyatakan bahwa dengan adanya tekanan yang semakin meningkat terhadap stok ikan, diperlukan pergeseran ke pendekatan yang memaksimalkan pemanfaatan setiap bagian ikan. "Saat ini, 40-50 persen bagian tuna belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal memiliki potensi ekonomi tinggi," ungkapnya.
Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa kinerja ekspor tuna Indonesia mengalami pertumbuhan positif dengan rata-rata sekitar 7,46 persen antara tahun 2021 hingga 2025. Pasar utama untuk ekspor tuna Indonesia meliputi Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang, yang masing-masing menyumbang kontribusi sebesar 19,59 persen, 16,38 persen, dan 15,58 persen dari total nilai ekspor yang diperkirakan mencapai USD 1,038 miliar pada tahun 2025.
Peluang Diversifikasi Produk
Ari Satria, Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan, menyatakan bahwa pencapaian ini mencerminkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok global. "Dengan nilai ekspor yang telah melampaui 1 miliar dolar AS pada 2025, sektor tuna memiliki potensi besar untuk terus berkembang melalui diversifikasi produk, peningkatan kualitas, dan penguatan akses pasar global," jelasnya.
Produk-produk bernilai tambah seperti tuna olahan dan fillet kini mulai mendominasi ekspor, menunjukkan pergeseran dari komoditas mentah ke produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Dalam konteks meningkatnya permintaan global untuk produk seafood berkelanjutan, aspek tata kelola dan transparansi menjadi sangat penting. Pemerintah terus memperkuat pengelolaan perikanan melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional.
Syarif Abd. Raup, Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan dan daya saing. "Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna melalui regulasi berbasis kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional, guna memastikan keberlanjutan sumber daya sekaligus menjaga daya saing Indonesia di pasar global," ujarnya.
Selain itu, pemanfaatan teknologi dan data juga mulai berperan penting dalam transformasi industri tuna. Saat ini, sekitar 40-50 persen bagian tuna seperti kulit, tulang, dan sisik belum dimanfaatkan secara optimal, meskipun memiliki potensi ekonomi yang tinggi. Produk turunan seperti kolagen, gelatin, biopeptida, hingga bahan farmasi dianggap memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan produk segar atau beku. Bahkan, pasar global kolagen diperkirakan akan melampaui USD 9 miliar pada tahun 2030.