Ketua MPR RI Ahmad Muzani berpartisipasi dalam International Summit of Religious Affairs yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Jumat (12/6). Acara ini dihadiri oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Syekh Dr Muhammad Abdul Karim Al Issa, serta berbagai mufti dan tokoh muslim dari seluruh dunia.
Dalam pidatonya, Muzani menyoroti pertumbuhan pesat jumlah populasi muslim di dunia yang sejalan dengan kemajuan yang dicapai oleh umat Islam. Ia mencontohkan Malaysia dan Indonesia yang kini bersiap menjadi negara maju berkat kemajuan dalam teknologi, layanan kesehatan, pendidikan, dan penurunan angka kemiskinan. "Hari ini lihatlah Indonesia, lihatlah Malaysia. Pada tahun 40 dan 50-an, Indonesia dan Malaysia masih merangkak berdiri keluar dari kemiskinan. Dan hari ini kita mulai bersiap menjadi negara maju. Ini karena ada peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan pelayanan pendidikan, kemajuan teknologi, stabilitas ekonomi dan politik, serta angka kemiskinan yang terus menurun. Ini semua karena ada keberpihakan negara terhadap rakyatnya," ungkap Muzani dalam keterangan tertulisnya.
Seruan untuk Persatuan Negara Muslim
Muzani menekankan pentingnya persatuan di antara negara-negara muslim. Ia menyatakan bahwa meskipun Islam harus beradaptasi dengan perkembangan zaman, inovasi dan kreativitas tetap harus diterapkan untuk menjadikan Islam lebih toleran dan moderat. "Islam harus menyesuaikan terhadap perkembangan zaman. Inovasi dan kreativitas harus diwujudkan untuk pengembangan Islam yang semakin toleran dan moderat. Karena di sisi lain ada pihak yang terus menggaungkan islamophobia yang menganggap kemajuan dunia Islam sebagai ancaman. Ada juga yang menjadikan Islam sebagai gerakan radikal. Inilah yang harus kita gaungkan agar Islam dicintai dengan benar," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa kemajuan dalam teknologi dan ilmu pengetahuan menuntut cara pandang agama yang lebih relevan. "Hari ini Malaysia dan Indonesia telah dianggap menjadi kekuatan Islam yang diperhitungkan," tambah Muzani.
Tanggung Jawab Terhadap Palestina
Namun, Muzani juga mengingatkan bahwa dunia Islam masih memiliki tanggung jawab terhadap Palestina yang hingga saat ini belum merdeka. Ia menegaskan bahwa sesuai dengan hasil Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955, negara-negara muslim telah bersepakat untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. "Ini kita harus wujudkan. Ini adalah utang kita. Kemerdekaan Palestina juga merupakan tanggung jawab konstitusi Indonesia. Dimana dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan," tegasnya.
Muzani menekankan bahwa perang adalah kejahatan yang merusak kehidupan manusia, dan anak-anak menjadi korban dari konflik tersebut. "Perang adalah kejahatan yang merusak kehidupan manusia. Anak-anak menjadi korban, ratusan ribu nyawa melayang, dan menyebabkan geopolitik yang tidak menentu. Karena itu cara yang paling baik untuk menghentikan perang adalah dengan terus menjunjung tinggi ukhuwah islamiyah. Tapi ukhuwah islamiyah tidak boleh menjadi ancaman bagi pihak lain. Kita harus memperkuat persatuan di antara bangsa kita meskipun kita berbeda agama, berbeda negara. Justru perbedaan itu menjadi kekuatan kita untuk terus bersatu menciptakan perdamaian di atas dunia," tutup Muzani.