Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini memamerkan hasil riset terkait teknologi nuklir dalam sebuah audiensi dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta. Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa teknologi yang diperkenalkan mencakup penggunaan nuklir damai yang ditujukan untuk berbagai sektor, termasuk energi, pangan, dan kesehatan.
“Jadi soal nuklir tadi kan nuklir itu kan tidak hanya untuk energi, nuklir ini termasuk untuk pangan, nuklir untuk kesehatan,” ungkap Arif kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (6/8/2026).
Pengembangan Radiofarmaka untuk Kesehatan
Dalam bidang kesehatan, BRIN sedang mengembangkan radiofarmaka, yaitu obat yang mengandung zat radioaktif yang digunakan dalam kedokteran nuklir untuk tujuan diagnosis dan pengobatan penyakit kanker. “Jadi sekarang itu kita sudah tadi saya sampaikan ada radiofarmaka yang sudah dikembangkan, dan ini akan sangat penting untuk identifikasi cancer maupun untuk mengatasi cancer,” jelas Arif.
Nuklir untuk Pangan dan Ekspor
Di sektor pangan, teknologi nuklir yang sedang dikembangkan berfokus pada pengawetan produk. Arif menegaskan pentingnya pengembangan ini untuk memenuhi syarat ekspor yang ditetapkan oleh beberapa negara. “Kalau kita ekspor buah-buahannya memang beberapa negara mensyaratkan adanya iradiasi supaya apa? Supaya bahan buah-buahannya itu lebih awet, dan sekarang kita sudah kembangkan fasilitas itu di Pasar Jumat ya, di BRIN, juga ada di Serpong yang sangat penting untuk peningkatan kualitas produk-produk ekspor kita,” tambahnya.
Arif juga menekankan bahwa BRIN berkomitmen untuk terus mengembangkan teknologi nuklir secara menyeluruh. Ini merupakan langkah antisipatif jika Indonesia memutuskan untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di masa depan. “Kami berusaha menguasai seluruh rantainya. Penambangan dan pemurnian uranium dan torium, fabrikasi bahan bakar, teknologi reaktor, keselamatan, metrologi radiasi sampai pengolahan limbah,” paparnya.
“BRIN harus menyiapkan kemampuan teknologi nuklir dari sekarang, sehingga ketika Indonesia memutuskan memasuki era PLTN, kita tidak memulainya sepenuhnya dari nol dan tidak hanya menjadi pembeli teknologi,” tutup Arif.