Kesehatan

Cara Mengenali Intoleransi Laktosa Menurut Ahli Gizi

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami intoleransi laktosa, yang cukup umum terjadi di Indonesia. Menurut penelitian, prevalensi kondisi ini cukup tinggi di kalangan anak-anak.

B
Bagas Prakoso
08 May 2026 6 pembaca
Cara Mengenali Intoleransi Laktosa Menurut Ahli Gizi
Ahli Nutrisi Vrischika Chabella saat ditemui di Konferensi Pers Hometown Artisan Dairy di Summarecon Mall Serpong, Kabupaten Tangerang, pada Rabu (6/5). (CNN Indonesia/Rhea Febriani)

Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak individu yang tidak menyadari bahwa mereka mengalami intoleransi laktosa, sebuah kondisi yang cukup umum di Indonesia. Dalam publikasi yang diterbitkan di Jurnal Pangan Halal Volume 4 Nomor 1 (April 2022), terungkap bahwa prevalensi malabsorbsi laktosa pada anak-anak berusia 3-5 tahun mencapai 21,3%, sedangkan pada usia 6-11 tahun mencapai 57,8%, dan pada anak usia 12-14 tahun sebesar 73%.

Prevalensi Intoleransi Laktosa

Berdasarkan penelitian, prevalensi intoleransi laktosa pada anak yang rutin mengonsumsi susu adalah 56,2%, sedangkan pada yang tidak rutin adalah 52,1%. Menurut Ahli Nutrisi, Vrischika Chabella, banyak kasus intoleransi laktosa yang tidak terdeteksi di Indonesia. "Karena sekarang makanan di Indonesia itu banyak banget yang processed food, yang sudah termasuknya UPF (ultra-processed foods), jadi kita sebenernya enggak tahu bloating-nya itu dari susu kah atau dari makanan lain," ungkapnya saat konferensi pers Hometown Artisan Dairy di Summarecon Mall Serpong, Kabupaten Tangerang, pada Rabu (6/5).

Produk susu sering digunakan sebagai bahan campuran dalam berbagai makanan dan minuman, seperti matcha, kopi, dan lainnya. Lalu, bagaimana cara mendeteksi intoleransi laktosa dalam tubuh kita?

Cara Mendeteksi Intoleransi Laktosa

Vrischika menjelaskan bahwa intoleransi laktosa memiliki spektrum yang luas, dengan efek yang bervariasi pada setiap individu. "Ada yang lactose intolerant-nya sangat-sangat parah. Mereka minum susu sedikit yang mengandung lactose aja, itu bisa lumayan berbahaya untuk badannya mereka. Bisa mungkin pas buang air besar, itu ada darahnya," jelasnya.

Orang yang mengalami gejala ringan masih bisa menikmati susu dan produk turunannya, namun sering kali mereka tidak menyadari kondisi tersebut. Vrischika menyarankan agar individu menghindari makanan dan minuman pemicu alergen lainnya terlebih dahulu jika ingin menguji apakah mereka intoleransi laktosa atau tidak. Setelah itu, mereka bisa mencoba minum susu dan mengamati reaksi tubuh.

Gejala intoleransi laktosa dapat muncul dengan cepat, dalam waktu 10 menit setelah mengonsumsi susu, seperti perut bergas. "Terus bisa juga yang sudah lama, akhirnya jadi jerawatan atau bacne (back acne/jerawat punggung). Dalam jangka panjangnya, juga bisa diare dan sebagainya," tambahnya.

Vrischika menyarankan untuk mencoba minum susu dalam takaran kecil terlebih dahulu untuk mengetahui seberapa banyak volume susu yang dapat ditoleransi oleh tubuh. Susu pasteurisasi dan yogurt umumnya lebih mudah dicerna oleh penderita intoleransi laktosa. Mereka juga masih dapat menikmati susu nabati dan produk susu bebas laktosa.

Bagi mereka yang memiliki intoleransi laktosa dengan gejala ringan, susu sapi masih bisa dinikmati, namun cara dan kualitas pengolahannya sangat mempengaruhi. "Kita lihat dari jurnal atau dari penelitian, kualitas susu itu juga matter. Jadi kalau kita lihat orang-orang yang lactose intolerant, minum pasteurized milk itu jauh lebih bisa ditoleransi dibandingkan susu UHT," kata Vrischika.

Hal ini disebabkan oleh proses pengolahan susu UHT yang menggunakan suhu tinggi, sehingga struktur dan protein susu banyak berubah. "Dan juga kalau misalnya lactose intolerant yang mild, kalau misalnya mereka mau coba makan yogurt, itu lebih gampang di-tolerate dibandingkan susu, karena yogurt itu sudah difermentasi," tambahnya.

Yogurt yang difermentasi dengan bakteri baik lebih mudah dicerna oleh tubuh. Namun, penting untuk diingat bahwa spektrum intoleransi laktosa sangat luas, sehingga tidak semua orang dapat menoleransi semua produk turunan susu. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana tubuh kita bereaksi.

Artikel Terkait