Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diakui lebih disebabkan oleh faktor luar negeri dibandingkan dengan isu-isu fundamental ekonomi di dalam negeri. Tekanan terhadap mata uang ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara Asia lainnya seiring dengan meningkatnya ketidakpastian di pasar global.
Pengaruh Konflik Global terhadap Dolar AS
Surya Vandiantara, seorang pengamat ekonomi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terjadi bersamaan dengan meningkatnya sentimen pasar yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini membuat para investor global cenderung beralih ke dolar AS sebagai pilihan investasi yang dianggap lebih aman. “Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan investor dan pelaku bisnis memilih dolar AS sebagai instrumen investasi dan alat tukar dibanding mata uang negara lain. Tingginya permintaan terhadap dolar AS inilah yang kemudian membuat nilainya menguat,” ungkap Surya.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa sejak awal konflik AS-Iran, rupiah telah melemah sekitar 3,65 persen. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan dengan beberapa mata uang negara lain, seperti peso Filipina yang mengalami penurunan sebesar 6,58 persen dan baht Thailand yang melemah 5,04 persen. Selain itu, rupee India tercatat melemah 4,32 persen dan peso Chile 4,24 persen, sementara won Korea Selatan turun sekitar 2,29 persen.
Dampak Terhadap Ekonomi Domestik
Surya menilai bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika global daripada faktor domestik. Ia menekankan bahwa stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional dan surplus neraca perdagangan dengan AS menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. “Ini mempertegas bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan faktor internal, melainkan lebih dominan oleh faktor eksternal,” jelasnya.
Mengenai langkah yang diambil oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, Surya berpendapat bahwa kebijakan yang diterapkan oleh otoritas moneter merupakan strategi jangka pendek untuk meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik. Ia menambahkan bahwa penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan bank sentral, tetapi juga memerlukan dukungan dari pelaku pasar dan dunia usaha untuk terus memprioritaskan penggunaan rupiah dalam transaksi dan investasi.
Surya juga memperingatkan bahwa pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya impor, termasuk bahan baku dan alat produksi untuk industri dalam negeri. Hal ini berpotensi mengakibatkan kenaikan harga barang produksi dan menekan daya serap pasar. “Karena itu diperlukan kesadaran bersama untuk menahan tekanan depresiasi rupiah,” pungkasnya.