Jakarta, CNN Indonesia -- Aktivitas olahraga seperti gym, padel, tenis, dan renang kini semakin digemari oleh masyarakat yang ingin menjaga kebugaran. Kegiatan ini sangat bergantung pada sendi bahu yang memiliki fleksibilitas tinggi dan rentang gerak yang luas. Meskipun memiliki kemampuan yang baik, gerakan lengan yang dilakukan secara berulang dalam waktu lama dapat menyebabkan cedera yang membatasi gerakan dan mengurangi performa. Dua jenis cedera yang paling umum dialami oleh atlet dan penggemar olahraga adalah cedera rotator cuff dan frozen shoulder.
Dokter spesialis ortopedi konsultan bahu dari Mayapada Hospital, dr. Sumpada Priambudi, menjelaskan bahwa cedera rotator cuff adalah kerusakan pada otot dan tendon yang berperan dalam menjaga stabilitas serta pergerakan bahu. "Umumnya terjadi akibat penggunaan berulang, trauma, atau proses degeneratif. Kondisi ini biasanya ditandai nyeri saat mengangkat lengan, kelemahan pada bahu, serta kesulitan melakukan aktivitas di atas kepala," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Jumat (8/5).
Frozen Shoulder dan Gejalanya
Jenis cedera lainnya yang sering terjadi pada bahu adalah frozen shoulder, yang juga dikenal sebagai adhesive capsulitis. Kondisi ini terjadi ketika kapsul pelindung sendi bahu mengalami peradangan dan penebalan, yang menyebabkan kekakuan secara bertahap. "Kondisi ini ditandai keterbatasan gerak yang makin memburuk, serta nyeri terutama di malam hari dan saat aktivitas sederhana seperti menyisir rambut atau mengangkat lengan," tambah dr. Priambudi.
Penanganan dan Pemulihan Cedera Bahu
Metode penanganan cedera bahu disesuaikan dengan tingkat keparahan yang dialami. Dalam banyak kasus, pendekatan konservatif sudah cukup untuk memulihkan fungsi bahu. Pendekatan ini mencakup fisioterapi rutin, latihan mobilitas sendi, serta penggunaan obat anti-peradangan sesuai anjuran dokter. Jika terapi awal tidak memberikan hasil yang memuaskan, tindakan medis yang lebih intensif bisa dipertimbangkan oleh tim medis. Injeksi sendi atau prosedur artroskopi minimal invasif menjadi pilihan efektif untuk memperbaiki jaringan yang rusak. "Tindakan artroskopi dilakukan dengan sayatan kecil sehingga proses pemulihan pasien dapat berlangsung lebih cepat," jelas dr. Priambudi.
Penting untuk mengenali gejala cedera sejak dini agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Penanganan yang cepat dan tepat juga berpengaruh pada seberapa optimal pemulihan yang dapat dicapai. Mayapada Hospital menyediakan layanan Orthopedic Center yang menangani berbagai keluhan nyeri otot dan sendi, mulai dari pencegahan, pemeriksaan, hingga pemulihan cedera. Tim dokter spesialis siap mendampingi setiap tahap penanganan.
Selain itu, terdapat juga Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan atlet dan pelaku olahraga aktif. Layanan yang ditawarkan mencakup skrining, pencegahan cedera, penanganan, hingga peningkatan performa, didukung dengan fasilitas seperti gym, VO2 Max, dan analisis komposisi tubuh. Informasi lebih lanjut mengenai layanan kesehatan di Mayapada Hospital dapat diakses melalui aplikasi MyCare, yang juga dilengkapi fitur Personal Health untuk memantau langkah kaki, detak jantung, kalori terbakar, dan Body Mass Index (BMI) dengan mudah.