Festival Tumpeng Nasi Krawu Vol. 4 yang berlangsung di Gresik Universal Science (GUS), Kecamatan Balongpanggang, mencatatkan prestasi yang membanggakan dengan mendapatkan pengakuan sebagai Rekor Dunia dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Acara yang diselenggarakan oleh Komunitas Wartawan Grissee (KWGe) ini berhasil menyusun gunungan nasi krawu setinggi sekitar 4,5 meter yang terdiri dari 3.000 bungkus nasi krawu.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menyatakan bahwa pencapaian ini merupakan bukti bahwa pelestarian budaya dapat memperkuat identitas suatu daerah serta memperluas pengenalan Gresik di tingkat nasional dan internasional.
Apresiasi terhadap Inovasi Budaya
Didampingi oleh Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, Yani mengapresiasi konsistensi KWGe yang selama empat kali penyelenggaraan terus menghadirkan inovasi dalam mempromosikan nasi krawu sebagai kuliner khas Gresik. Menurutnya, merawat budaya akan memberikan dampak yang lebih luas jika dilakukan secara kolaboratif dan dikemas dalam kegiatan yang dapat menarik partisipasi masyarakat. "Nasi krawu bukan sekadar makanan khas. Nasi krawu adalah identitas Kabupaten Gresik. Di mana pun orang mengenal Gresik, salah satu yang langsung diingat adalah nasi krawu," ungkap Yani.
Ia menambahkan bahwa upaya untuk melestarikan kuliner ini sangat penting. Festival Nasi Krawu menunjukkan bahwa warisan budaya dapat berkembang menjadi ruang kebersamaan yang memberikan manfaat di berbagai sektor. Selain berfungsi sebagai sarana untuk memperkenalkan identitas daerah, kegiatan ini juga membuka peluang bagi pertumbuhan aktivitas ekonomi masyarakat.
Harapan untuk Masa Depan
Yani berharap pencapaian meraih Rekor Dunia MURI dapat menjadi motivasi untuk terus berinovasi dalam mempromosikan potensi Kabupaten Gresik. Ia menekankan bahwa keberhasilan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari berbagai gagasan baru yang dapat lebih memperkuat citra Gresik sebagai daerah kaya budaya dan tradisi. "Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman KWGe yang terus konsisten memperkenalkan nasi krawu hingga semakin dikenal masyarakat luas. Hari ini prestasinya telah mencapai Rekor Dunia MURI," kata Yani.
Ia juga memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung penyelenggaraan festival, termasuk Forkopimda, perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, pelaku usaha, para sponsor, serta masyarakat Balongpanggang yang telah berkontribusi dalam kesuksesan acara tersebut.
Sementara itu, Perwakilan MURI, Ari Andriani, menjelaskan bahwa pengukuhan Rekor Dunia ini diberikan tidak hanya karena jumlah sajian yang berhasil disusun, tetapi juga karena festival ini mengangkat nilai kearifan lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Gresik. "Sego krawu bukan sekadar nasi dengan suiran daging, serundeng, dan sambal. Sego krawu adalah identitas, warisan leluhur, sekaligus simbol kehangatan serta keramahan masyarakat Gresik," jelas Ari.
Ari menambahkan bahwa berdasarkan hasil verifikasi, gunungan sego krawu yang terdiri dari 3.000 bungkus dengan tinggi sekitar 4,5 meter memenuhi seluruh persyaratan untuk pencatatan rekor. Oleh karena itu, MURI menetapkan pencapaian ini sebagai Rekor Dunia karena dinilai berhasil mengangkat kuliner tradisional Indonesia melalui sebuah perhelatan budaya yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.
Festival Tumpeng Nasi Krawu Vol. 4 berlangsung selama dua hari dengan berbagai kegiatan, mulai dari bazar UMKM, pertunjukan seni budaya, lomba anak-anak, layanan publik, hingga aktivitas edukatif. Seluruh rangkaian acara ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat dalam memperkuat pelestarian budaya serta mempromosikan potensi Kabupaten Gresik.
Setelah prosesi penyerahan piagam Rekor Dunia MURI kepada KWGe, ribuan bungkus nasi krawu yang tersusun dalam gunungan dibagikan kepada masyarakat. Antusiasme warga yang memadati kawasan GUS menandai penutup manis festival yang tidak hanya mencatatkan prestasi, tetapi juga menegaskan bahwa budaya lokal dapat menjadi kekuatan untuk membangun kebanggaan daerah.