Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan seiring dengan penetapan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan global. Salah satu langkah yang diambil adalah mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi daging mentah dan hewan liar guna menekan risiko penularan penyakit tersebut.
Pentingnya Memasak Makanan dengan Baik
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menekankan pentingnya memastikan makanan yang dikonsumsi telah dimasak dengan baik. "Masyarakat diimbau hanya mengonsumsi daging yang telah dimasak matang dan menghindari konsumsi hewan liar," ungkap Aji pada Minggu (17/5) yang dikutip dari detikhealth. Imbauan ini disampaikan sebagai respons terhadap penetapan WHO mengenai wabah Ebola di Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).
Data Kasus Ebola dan Respons Pemerintah
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, melaporkan bahwa hingga saat ini terdapat lebih dari 300 kasus suspek Ebola dengan 88 kematian. Meskipun demikian, WHO menegaskan bahwa wabah ini belum mencapai tingkat pandemi seperti Covid-19 dan belum merekomendasikan penutupan perbatasan internasional.
Menanggapi situasi ini, pemerintah Indonesia memperkuat kesiapsiagaan nasional untuk mencegah masuknya kasus Ebola ke dalam negeri. "Pemerintah terus melakukan pemantauan perkembangan kasus Ebola di tingkat global serta memperkuat kesiapsiagaan nasional guna mencegah masuknya penyakit ke Indonesia," jelas Aji. Pengawasan terhadap pelaku perjalanan internasional kini diperketat di pintu masuk negara melalui thermal scanner, observasi visual, dan pemanfaatan aplikasi All Indonesia.
Kemenkes juga telah menyiapkan 198 rumah sakit rujukan dalam jaringan layanan pengampuan Penyakit Infeksi Emerging (PIE) dan melakukan penguatan surveilans melalui pemantauan di 21 rumah sakit sentinel yang tersebar di 20 provinsi. Selain itu, kapasitas laboratorium, pelatihan tenaga kesehatan, dan koordinasi lintas sektor bersama WHO serta pihak terkait lainnya juga diperkuat.
Masyarakat diimbau untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menggunakan masker saat sakit atau berada di tempat umum, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk menghindari kontak langsung dengan orang, hewan, atau benda yang diduga terkontaminasi guna mengurangi risiko penularan Ebola.
WHO menyatakan bahwa wabah kali ini disebabkan oleh Bundibugyo ebolavirus, salah satu strain langka dari virus Ebola, yang hingga kini belum memiliki vaksin atau terapi spesifik yang disetujui. Bundibugyo ebolavirus pertama kali teridentifikasi di Distrik Bundibugyo, Uganda, saat terjadi wabah pada 2007-2008. Sejak saat itu, strain ini baru muncul dalam beberapa lonjakan kasus besar sebelum kembali memicu wabah terbaru pada 2026 di DRC dan Uganda.