Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan perhatian serius terhadap potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mungkin terjadi di berbagai perusahaan sebagai dampak dari kondisi geopolitik global, khususnya terkait konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Saat ini, Kemnaker sedang mengumpulkan informasi yang relevan mengenai situasi tersebut.
Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, menyatakan bahwa pihaknya masih dalam proses kajian terhadap laporan-laporan yang mengindikasikan adanya potensi PHK. Hasil dari kajian ini akan menjadi acuan dalam merumuskan kebijakan pemerintah ke depan. "Ya kami terus kumpulkan informasi-informasi tersebut, dan kami akan kaji dan analisis untuk pengambilan kebijakan yang pas," ungkap Cris di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Jakarta, pada Kamis (20/4/2026).
Industri Terdampak
Cris Kuntadi menjelaskan bahwa sudah ada beberapa laporan dari sektor industri mengenai potensi PHK yang diakibatkan oleh peningkatan beban operasional perusahaan akibat konflik global. Sektor yang paling banyak melaporkan adalah industri plastik dan gas. "Ada beberapa. Lebih ke yang plastik sih, termasuk gas ya," tambahnya.
Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang dipimpin oleh Said Iqbal mengungkapkan bahwa ada potensi PHK yang mengancam sekitar 9.000 buruh di berbagai sektor. Angka ini berasal dari sekitar 10 perusahaan yang terpengaruh oleh kondisi geopolitik global. Iqbal menyatakan bahwa laporan tersebut diperoleh dari serikat buruh di beberapa pabrik, meskipun ia belum merinci nama-nama perusahaan yang berpotensi melakukan efisiensi tenaga kerja. "10 perusahaan ini, dan bahkan tidak menutup kemungkinan akan lebih, terutama di industri plastik dan industri tekstil, saat ini tercatat 9 ribu berpotensi (PHK)," jelas Iqbal dalam konferensi pers daring pada Jumat (17/4/2026).
Penyebab Utama PHK
Iqbal menambahkan bahwa tekanan utama yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari kenaikan harga bahan baku dan biaya energi. Beberapa industri yang terdampak termasuk tekstil, garmen, plastik, serta sebagian sektor otomotif dan petrokimia. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi faktor pendorong utama bagi perusahaan untuk melakukan efisiensi. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan menekan biaya tenaga kerja. "Nah, pabrik-pabrik ini akan melakukan efisiensi. Karena ongkos produksi naik, efisiensinya adalah di labor cost, di biaya buruh, untuk melakukan penekanan biaya buruh adalah pengurangan karyawan, itu berarti terjadi PHK," tutupnya.