BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:09 WIB
Berita Terkini Minggu, 05 Jul 2026 08:45 WIB

PDIP Menilai PSI Hanya Mencari Sensasi Politik

05 Jul 2026, 08:45 WIB 98x dibaca 3 menit baca news.detik.com news.detik.com
T
Taufik Pranata 98x dibaca · 3 menit baca
Foto: Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus. (Anggi/detikcom)
Foto: Ketua DPP PDIP Deddy Sitorus. (Anggi/detikcom)

Jakarta - Deddy Sitorus, Ketua DPP PDIP, memberikan tanggapan terhadap Ketua DPP PSI, Bestari Barus, yang mengungkapkan keheranannya atas komentar PDIP mengenai Presiden ke-7, Joko Widodo. Deddy menilai bahwa PSI hanya sibuk mengaitkan dirinya dengan PDIP tanpa memberikan suara yang berarti untuk isu-isu rakyat. "Perasaan nggak pernah kedengaran tuh suara PSI (kritisi isu rakyat), sibuk nyeret-nyeret PDI Perjuangan saja. Rakyat sudah bosan dengan gimmick PSI," ujar Deddy kepada wartawan pada Minggu (5/7/2026).

PSI Dinilai Hanya Mencari Sensasi

Deddy berpendapat bahwa PSI lebih sering melontarkan pernyataan yang bersifat sensasional. Ia pun menantikan suara kritis PSI terkait isu-isu yang relevan dengan masyarakat. "Sudahlah rakyat juga tahu mereka cuma bikin sensasi buat pansos elektoral," tambahnya. "Ditunggu suaranya soal tuntutan mahasiswa, kasus suap Bupati Kuansing dan soal-soal lain yang terkait dengan rakyat," imbuhnya.

Pernyataan Guntur Romli tentang PSI

Sementara itu, Guntur Romli, Politikus PDIP lainnya, menanggapi sikap PSI yang percaya diri bahwa Jawa Tengah akan menjadi "kandang gajah" bagi mereka. Guntur mengingatkan PSI agar tidak bersikap sombong. "PSI jangan terlalu sombong, Jokowi memaksakan keliling artinya PSI sangat lemah, kalau PSI kuat Jokowi pastinya cuma istirahat dan santai-santai saja," jelas Guntur kepada wartawan pada hari yang sama.

Guntur juga menyoroti bahwa safari politik yang dilakukan Jokowi bisa jadi merupakan pengalihan isu dari Sekjen PSI yang baru-baru ini mengaku menerima uang dari Bupati Kuansing, yang kemudian dikembalikan sepuluh hari setelahnya. "KPK harus jangan tebang pilih masa butuh 10 hari baru dikembalikan, itu tidak menggugurkan peristiwa pidana, juga terhadap Ketua Harian PSI Ahmad Ali yang rumahnya sudah digeledah, duit miliaran disita tapi sampai saat ini aman-aman saja," tambahnya.

Guntur menilai pernyataan PSI mengenai target politik di Jawa Tengah tidak perlu dikhawatirkan, mengingat hasil pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa PSI belum memiliki kekuatan yang signifikan. "Itu bentuk kesombongan saja, bukan pernyataan yang perlu ditanggapi, apalagi dikhawatirkan," ujarnya. Ia menekankan bahwa PSI belum berhasil masuk parlemen meskipun didukung oleh Jokowi.

Di sisi lain, Bestari Barus sebelumnya menyatakan keheranannya terhadap PDIP yang terus mengomentari Jokowi, meskipun Jokowi telah dikeluarkan dari partai tersebut. Bestari mempertanyakan mengapa anggota DPR dari PDIP lebih memilih mengomentari PSI dan Jokowi daripada fokus pada pekerjaan untuk rakyat. "Kenapa para anggota DPR RI PDIP ini lebih senang mengomentari PSI dan Pak Jokowi ketimbang bekerja untuk rakyat," ungkapnya saat dihubungi wartawan pada Sabtu (4/7).

Bestari juga menilai bahwa PDIP yang telah mengeluarkan Jokowi seharusnya tidak lagi mempermasalahkan mantan kadernya tersebut. "Masyarakat umum melihatnya sebagai ya, lawak-lawak saja ini partai PDI Perjuangan ini," tutupnya.