BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 03:40 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Rabu, 24 Jun 2026 22:50 WIB

Peluang Ekspansi Pasar Beras Fortifikasi di Indonesia

24 Jun 2026, 22:50 WIB 14x dibaca 3 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
N
Nadia Stevani Putri 14x dibaca · 3 menit baca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

JAKARTA — Pasar beras fortifikasi kini mulai dibuka untuk lebih luas, dengan dukungan dari pelaku ritel dan industri. Mereka meyakini bahwa produk beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral ini memiliki potensi yang kuat untuk berkembang di pasar nasional.

Strategi Peningkatan Distribusi

Pada forum bertajuk Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market yang berlangsung pada Rabu (24/6/2026), berbagai pemangku kepentingan berkumpul untuk membahas langkah-langkah yang diperlukan guna meningkatkan keterjangkauan dan distribusi beras fortifikasi kepada masyarakat.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Dasep Suryanto, mengungkapkan bahwa sektor ritel siap mendukung pengembangan pasar beras fortifikasi. Namun, ia juga menyoroti adanya tantangan terkait perbedaan harga yang cukup signifikan dibandingkan dengan beras reguler. “Kami di lini hilir melihat adanya kebingungan pasar karena belum tersedianya referensi harga yang jelas. Di sisi lain, kita ingin menghadirkan produk bergizi yang tetap terjangkau bagi konsumen,” ujarnya.

Tantangan Harga dan Edukasi Konsumen

Saat ini, harga beras fortifikasi di jaringan ritel modern masih berkisar 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan beras biasa. Dasep menekankan bahwa kondisi ini perlu diatasi melalui efisiensi dalam distribusi dan edukasi yang lebih masif kepada konsumen. APRINDO mengidentifikasi tiga faktor penting untuk mempercepat pertumbuhan pasar beras fortifikasi, yaitu kepastian regulasi, distribusi yang lebih efisien dari penggilingan ke peritel, dan peningkatan pemahaman masyarakat mengenai manfaat produk tersebut.

Selain itu, kemasan berukuran kecil seperti 1 kilogram dan 2,5 kilogram dianggap dapat membantu meningkatkan akses masyarakat sekaligus mengurangi hambatan dalam pembelian.

Dari sisi industri, Komisaris PT Pangan Nabati Umbi Nusantara, Mirza Muttaqien, menyatakan bahwa sektor beras fortifikasi telah memasuki fase industrialisasi yang lebih matang. Ia menambahkan bahwa biaya tambahan untuk memperkaya beras dengan mikronutrien relatif kecil jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh. “Pada prinsipnya, berapa pun harga beras yang beredar di pasar, terdapat ruang bagi peningkatan nilai tambah sekitar Rp1.000 per kilogram,” jelas Mirza.

Perusahaan tersebut saat ini memiliki kapasitas produksi beras fortifikasi sekitar 1.000 ton per bulan, namun utilisasi pabrik masih dapat ditingkatkan untuk efisiensi biaya produksi dan membuat harga jual lebih kompetitif. Mirza juga menegaskan bahwa Indonesia telah memiliki landasan regulasi yang kuat melalui penerbitan SNI 9314 Tahun 2024 dan SNI 9372 Tahun 2025 yang mengatur standar beras fortifikasi. “Regulasi sudah tersedia dan sistem di tingkat negara telah siap. Tantangannya sekarang adalah melakukan scale up agar industri ini dapat tumbuh lebih cepat,” tuturnya.

Sementara itu, Diyan Anggraini, seorang pelaku industri beras fortifikasi, menekankan pentingnya pengembangan jaringan penggilingan di berbagai daerah untuk memperpendek rantai distribusi dan menekan biaya logistik. “Kami membentuk jaringan penggilingan dan mendorong produksi di berbagai daerah. Dengan begitu rantai distribusi menjadi lebih pendek dan biaya logistik dapat ditekan,” ungkap Diyan.

Menurutnya, keberhasilan dalam mengembangkan pasar beras fortifikasi sangat bergantung pada keterjangkauan harga dan kemudahan akses masyarakat terhadap produk tersebut. Oleh karena itu, semua pelaku usaha diharapkan dapat menjaga harga tetap terjangkau agar manfaat gizi dari beras fortifikasi dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.