Indonesia saat ini memasuki fase populasi menua, yang menjadikan kebutuhan akan lingkungan sosial dan ekonomi yang ramah bagi lansia semakin mendesak. Pemerintah berupaya merubah cara pandang masyarakat agar lansia tidak hanya dilihat sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai individu yang aktif, sehat, mandiri, serta berperan dalam pembangunan.
Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Budi Setiyono, menegaskan bahwa perubahan dalam struktur demografi ini harus diimbangi dengan kebijakan yang menjadikan lansia sebagai subjek dalam pembangunan. Menurutnya, kelompok lansia memiliki pengalaman dan kontribusi yang berharga yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, pembangunan keluarga dan masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan lansia untuk tetap beraktivitas dan berkontribusi sesuai dengan kemampuan mereka.
Pelibatan Lansia dalam Upacara Kemerdekaan
Komitmen pemerintah untuk melibatkan lansia ditunjukkan melalui partisipasi puluhan lansia sebagai tamu kehormatan dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, yang akan berlangsung di Halaman Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta Timur, pada Senin, 17 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program SIDAYA (Lansia Berdaya) yang bertujuan untuk mendorong lansia agar tetap aktif dan berdaya dalam masyarakat.
Budi menjelaskan bahwa pelibatan lansia dalam peringatan kemerdekaan memiliki makna penting sebagai penghormatan kepada generasi yang telah berkontribusi bagi bangsa, sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi. “Pelibatan lansia dalam momen sakral kemerdekaan memiliki makna strategis, yakni memberikan penghormatan bagi para senior yang sepanjang hidupnya tentu telah banyak berkontribusi terhadap bangsa dan negara,” ungkap Budi.
Membangun Ekosistem Ramah Lansia
Dia juga menambahkan bahwa kehadiran lansia dalam kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk mentransfer pengalaman dan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda. “Kehadiran para sesepuh bangsa di lapangan upacara diharapkan menjadi jembatan historis antargenerasi untuk mentransfer nilai-nilai nasionalisme kepada generasi muda,” jelasnya.
Program SIDAYA dirancang untuk mendorong lansia agar tetap sehat, mandiri, dan berdaya, sehingga tidak hanya bergantung pada dukungan keluarga atau pemerintah. Perubahan paradigma ini juga berkaitan dengan kesiapan Indonesia menghadapi dampak ekonomi akibat meningkatnya jumlah penduduk lansia. Kebutuhan akan layanan kesehatan, produk, jasa, ruang aktivitas, serta kesempatan kerja dan usaha bagi lansia berpotensi membentuk silver economy. Oleh karena itu, pembangunan ekosistem yang ramah bagi lansia perlu melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.
Dalam pelaksanaan upacara, Kemendukbangga/BKKBN juga menyiapkan fasilitas yang mendukung kenyamanan lansia, seperti area teduh, tempat duduk, pendamping khusus, fasilitas medis darurat, dan ambulans. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan lansia terlibat dalam aktivitas sosial dengan aman dan nyaman. Dalam jangka panjang, pendekatan ini diharapkan dapat mendukung kesiapan Indonesia menghadapi perubahan struktur penduduk serta membuka peluang bagi pertumbuhan silver economy.