Ekonomi

Penurunan Harga Minyak Global Dipicu Pengumuman Trump Terkait Selat Hormuz

Harga minyak dunia mengalami penurunan pada 4 Mei 2026, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.

B
Bima Mandala Sakti
04 May 2026 8 pembaca
Penurunan Harga Minyak Global Dipicu Pengumuman Trump Terkait Selat Hormuz
Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin, (4/5/2026). (Foto: AFP)

Harga minyak dunia, baik Brent maupun West Texas Intermediate (WTI), mengalami penurunan pada hari Senin, 4 Mei 2026. Penurunan ini terjadi setelah para pelaku pasar menanggapi pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai upaya untuk “membebaskan” kapal-kapal yang terjebak akibat penutupan Selat Hormuz, di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Iran dan AS.

Menurut informasi dari CNBC, harga minyak mentah Brent turun sebesar 0,35% menjadi USD 107,77 per barel, sedangkan harga minyak WTI menyusut 0,57% menjadi USD 101,31 per barel. Penutupan Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur distribusi sekitar 20% pasokan energi global, kini hampir terhenti akibat blokade yang terjadi.

Ketegangan di Selat Hormuz

United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan pada hari Senin bahwa sebuah kapal tanker terkena proyektil di utara kota Fujairah, Uni Emirat Arab, yang menunjukkan adanya risiko bagi kapal-kapal yang berlayar di wilayah Timur Tengah. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa AS akan berusaha untuk “membebaskan” kapal-kapal yang terdampar sejak dimulainya perang Iran.

Inisiatif yang dinamakan "Proyek Kebebasan" ini akan fokus pada pengeluaran kapal-kapal sipil yang berbendera negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik dari jalur air tersebut, sehingga mereka dapat "dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka." Proyek ini dijadwalkan dimulai pada hari Senin waktu setempat.

Komando Pusat AS mengungkapkan bahwa dukungan militer untuk Proyek Kebebasan akan mencakup kapal perusak rudal berpemandu, lebih dari 100 pesawat berbasis darat dan laut, platform tak berawak multi-domain, serta 15.000 anggota militer.

Reaksi Pasar dan Produksi Minyak

Para pelaku pasar juga memantau kesepakatan OPEC+ yang berencana meningkatkan produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari, dalam pertemuan pertama kartel tersebut setelah keluarnya anggota kunci, Uni Emirat Arab. CEO Exxon Mobil, Darren Woods, sebelumnya telah memperingatkan bahwa pasar global belum sepenuhnya merasakan dampak dari gangguan pasokan minyak akibat perang Iran.

Woods menjelaskan bahwa gangguan pasokan energi yang terjadi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya, terutama karena penutupan Selat Hormuz. Ia menambahkan bahwa dampak awal konflik masih tertahan oleh banyaknya kapal tanker yang telah mengangkut minyak sebelum perang dimulai. Selain itu, pelepasan cadangan minyak strategis serta penggunaan stok komersial juga membantu menahan gejolak harga untuk sementara waktu.

Namun, Woods menegaskan bahwa kondisi ini tidak akan bertahan lama. Ia menyatakan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup, tekanan terhadap harga minyak akan semakin meningkat. Salah satu sumber pasokan alternatif diperkirakan akan segera habis jika konflik berlanjut, yang dapat menyebabkan lonjakan harga minyak, terutama jika jalur distribusi utama belum dibuka kembali.

Selama berlangsungnya perang, harga minyak menunjukkan fluktuasi yang signifikan. Harga sempat melonjak karena kekhawatiran akan eskalasi konflik, namun kemudian turun saat muncul harapan perdamaian, sebelum kembali naik. Pada perdagangan Jumat sebelumnya, harga minyak mentah AS turun lebih dari 3% ke level USD 101,38 per barel, sementara minyak Brent sebagai acuan global turun sekitar 2% ke USD 108 per barel.

Meskipun demikian, Woods menilai bahwa harga tersebut masih tergolong “normal” jika dibandingkan dengan skala gangguan pasokan di Timur Tengah. Ia menambahkan bahwa masih ada potensi kenaikan lebih lanjut jika penutupan Selat Hormuz berlanjut.

Exxon Mobil memperkirakan bahwa aliran minyak dari kawasan Teluk Persia baru akan kembali normal dalam waktu satu hingga dua bulan setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Proses pemulihan ini akan memerlukan waktu karena kapal tanker harus diatur ulang dan antrean distribusi perlu diselesaikan. Di sisi lain, pemerintah dan pelaku industri diperkirakan akan kembali mengisi cadangan strategis dan stok komersial setelah konflik berakhir, yang dapat meningkatkan permintaan dan mendorong harga minyak lebih tinggi.

Exxon juga menyebutkan bahwa produksi mereka di Timur Tengah bisa turun hingga 750 ribu barel per hari dibandingkan dengan tahun 2025 jika penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga kuartal kedua, dengan sekitar 15% dari total produksi Exxon terdampak oleh kondisi ini. Selain itu, serangan Iran terhadap fasilitas ekspor gas alam cair di Qatar juga merusak dua jalur produksi yang sebagian dimiliki oleh Exxon.

Artikel Terkait