Kesehatan

Perbedaan Antara COVID-19 dan Hantavirus yang Perlu Diketahui

Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah laporan wabah di kapal pesiar MV Hondius, memicu perbandingan dengan COVID-19. Meskipun keduanya dapat menimbulkan gejala mirip flu, mereka memiliki perbed...

T
Taufik Pranata
13 May 2026 5 pembaca
Perbedaan Antara COVID-19 dan Hantavirus yang Perlu Diketahui
Ilustrasi. Hantavirus berbeda dengan virus Covid-19. (iStockphoto/Md Saiful Islam Khan)

Hantavirus menjadi sorotan setelah terjadinya wabah di kapal pesiar MV Hondius yang mengakibatkan beberapa kematian. Banyak orang mulai membandingkan hantavirus dengan COVID-19 karena keduanya dapat menimbulkan gejala yang mirip, seperti flu dan masalah pernapasan. Namun, meskipun keduanya disebabkan oleh virus dan dapat mempengaruhi sistem pernapasan, COVID-19 dan hantavirus memiliki perbedaan yang jelas dalam hal penyebab, cara penularan, dan risiko penyebarannya.

COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang sangat mudah menular antar manusia. Sebaliknya, hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya berasal dari hewan pengerat, seperti tikus, dan lebih sering menular melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi.

Asal Usul dan Penularan

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), COVID-19 pertama kali menyebar secara global pada tahun 2020 dan kemudian dinyatakan sebagai pandemi. Di sisi lain, hantavirus bukanlah virus baru. Virus ini sudah dikenal lama dan ditularkan oleh hewan pengerat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa hantavirus biasanya menular melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

Di Indonesia, penelitian mengenai hantavirus telah dilakukan sejak lama. Sebuah studi yang dilakukan oleh Kosasih dan rekan-rekannya pada tahun 2011 di jurnal Vector-Borne and Zoonotic Diseases melaporkan adanya infeksi virus Seoul, salah satu jenis hantavirus, pada manusia dan tikus di Jawa Barat.

Perbedaan utama antara COVID-19 dan hantavirus terletak pada cara penularannya. COVID-19 dapat menyebar dengan mudah antar manusia melalui partikel pernapasan saat seseorang batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Hal ini memungkinkan virus menyebar dengan cepat di berbagai tempat seperti rumah, kantor, sekolah, dan transportasi umum. Sementara itu, hantavirus umumnya tidak menyebar melalui interaksi sehari-hari antar manusia. Penularan lebih sering terjadi ketika seseorang menghirup debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus, terutama saat membersihkan area yang banyak terdapat jejak tikus.

Gejala dan Masa Inkubasi

Pada tahap awal, gejala COVID-19 dan hantavirus dapat terlihat mirip karena keduanya dapat menyebabkan gejala seperti flu. COVID-19 dapat menimbulkan demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, nyeri tubuh, hingga hilangnya penciuman. Gejala ini bisa bervariasi dari ringan hingga berat tergantung pada kondisi kesehatan individu.

Sementara itu, hantavirus biasanya dimulai dengan gejala seperti demam, lemas, nyeri otot, sakit kepala, menggigil, mual, muntah, dan nyeri perut. Pada fase lanjut, hantavirus pulmonary syndrome (HPS) dapat berkembang menjadi sesak napas berat akibat paru-paru terisi cairan, yang dapat berakibat fatal.

Masa inkubasi untuk COVID-19 umumnya lebih cepat, dengan gejala muncul sekitar 2-14 hari setelah terpapar. Sebaliknya, gejala hantavirus dapat muncul lebih lambat, bahkan 1-8 minggu setelah terpapar lingkungan yang terkontaminasi. Hal ini sering kali membuat pasien tidak langsung menyadari bahwa gejala yang muncul berkaitan dengan aktivitas mereka beberapa minggu sebelumnya.

Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Karena cara penularan yang berbeda, langkah pencegahan untuk kedua penyakit ini juga bervariasi. Pencegahan COVID-19 lebih difokuskan pada upaya menghindari penularan antar manusia, seperti:

  • Vaksinasi;
  • Penggunaan masker di situasi berisiko;
  • Menjaga ventilasi yang baik;
  • Mencuci tangan secara rutin;
  • Menghindari kontak dekat saat merasa tidak sehat.

Sementara itu, pencegahan hantavirus lebih berfokus pada pengurangan paparan terhadap tikus dan lingkungan yang terkontaminasi. WHO merekomendasikan beberapa langkah, seperti:

  • Menutup celah masuk untuk tikus;
  • Menyimpan makanan dengan baik;
  • Membersihkan kotoran tikus dengan disinfektan;
  • Memakai sarung tangan atau masker saat membersihkan area berisiko;
  • Menghindari menyapu kering kotoran tikus agar debu tidak beterbangan.

Dengan memahami perbedaan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk menghindari kedua penyakit tersebut.

Artikel Terkait