Jakarta - Penyelidikan terkait dugaan penistaan agama yang melibatkan tantangan hafalan Al-Qur'an demi minuman keras di festival musik The Sounds Project yang berlangsung di Ancol, Jakarta Utara, masih terus dilakukan oleh pihak kepolisian. Saat ini, mereka tengah berupaya mengumpulkan barang bukti yang diperlukan.
"Kami masih mengumpulkan sejumlah barang bukti dari rekaman video yang beredar viral tersebut," ujar Kasi Humas Polres Metro Jakarta Utara, Iptu Maryati Jonggi Siregar, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Proses Pengumpulan Bukti
Maryati menjelaskan bahwa petugas sedang memeriksa berbagai barang bukti yang ada, termasuk video yang telah tersebar di media sosial. Ia juga menyampaikan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melaporkan kasus ini ke Mapolrestro Jakarta Utara.
"Kasus saat ini masih dalam penyelidikan, dan kami mendalami kejadian tersebut serta melakukan klarifikasi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam acara tersebut," tambahnya. Bendahara MUI Jakarta Utara, KH Ali Fahmi, mengonfirmasi bahwa pelaporan kasus ini dilakukan oleh MUI Kecamatan Pademangan.
Viralnya Rekaman Tantangan
Sebelumnya, sebuah rekaman video yang menunjukkan dugaan penistaan agama di festival musik "The Sounds Project" viral di platform media sosial Instagram. Dalam video tersebut, tampak pengunjung yang ditantang untuk menghafal surah Ad-Dhuha di sebuah booth minuman beralkohol yang bertuliskan "New Port" pada acara yang berlangsung pada Minggu (9/10). Mereka yang berhasil menghafal akan mendapatkan hadiah berupa satu botol minuman beralkohol.
Aksi tersebut terekam oleh kamera amatir dan langsung menuai kecaman dari masyarakat luas.
Tanggapan Penyelenggara Acara
Pihak penyelenggara, The Sounds Project, memberikan respon terkait insiden ini. Mereka menyatakan kekecewaan dan mengecam tindakan tersebut. "Kami sebagai penyelenggara acara merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut. Kami tidak pernah dan tidak akan membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan tantangan atau promosi produk dalam bentuk apa pun," ungkap mereka melalui akun Instagram resmi.
Penyelenggara juga menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak sesuai dengan arahan maupun persetujuan mereka. Mereka telah menegur pihak sponsor dan meminta agar kasus ini diselesaikan dengan tuntas. "Kami telah menegur pihak sponsor terkait dan meminta mereka untuk menyelesaikan kasus ini hingga tuntas," tambahnya.
Pernyataan dari Pihak Sponsor
Di sisi lain, Direktur Newport, Handoko Sasongko, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa aktivitas tersebut bukan merupakan program atau konsep promosi dari pihaknya. "Sehubungan dengan beredarnya video di booth Newport pada gelaran festival musik The Sounds Project, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat muslim, tokoh agama, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kejadian yang menimbulkan ketidaknyamanan," jelas Handoko dalam keterangannya.
Handoko juga mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan di lapangan. Ia menyesalkan bahwa situasi tersebut tidak ditangani dengan baik pada saat kejadian. "Kami sangat menyesal bahwa situasi tersebut tidak ditangani sebagaimana mestinya," tuturnya. Newport menegaskan komitmennya untuk menghormati nilai-nilai agama dan sensitivitas yang ada di masyarakat Indonesia.