Perhatian masyarakat kini tertuju pada ancaman Hantavirus, yang menjadi sorotan setelah munculnya beberapa kasus. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau agar masyarakat meningkatkan kebersihan lingkungan, mengingat saat ini belum ada vaksin yang tersedia untuk melawan virus ini.
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menyatakan bahwa tidak perlu ada kepanikan berlebihan, tetapi kewaspadaan harus tetap dijaga dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). "Tidak perlu macam-macam, karena virus seperti ini kita belum punya vaksinnya. Langkah terbaik adalah pencegahan," ungkap Piprim dalam acara media briefing IDAI.
Penularan Melalui Hewan Pengerat
Dokter spesialis anak dan pakar infeksi tropik IDAI, Dominicus Husada, menjelaskan bahwa Hantavirus umumnya ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Penularan terjadi melalui partikel virus yang terdapat pada urine, kotoran, dan air liur tikus. Risiko penularan akan meningkat secara signifikan di ruang tertutup yang terkontaminasi. "Makin tertutup tempatnya, makin besar kemungkinan penularan jika ada tikus pembawa virus di sana. Penularan lewat kulit memang bisa terjadi, tapi jarang. Jalur utamanya tetap melalui hirupan (udara)," jelas Dominicus.
Dia juga mengingatkan pentingnya cara membersihkan area yang terkontaminasi. "Jangan menyapu kering kotoran atau urine tikus. Cara ini justru berbahaya karena partikel virus bisa beterbangan dan terhirup ke paru-paru. Alih-alih menyapu, gunakanlah disinfektan untuk membasahi kotoran sebelum dibersihkan," tambahnya.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Salah satu tantangan dalam menghadapi Hantavirus adalah gejalanya yang mirip dengan flu atau selesma biasa. Beberapa gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lelah yang berlebihan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan yang serius, terutama jika menyerang paru-paru. Pada varian tertentu, infeksi ini juga dapat merusak fungsi ginjal. "Hantavirus tidak bisa dibedakan hanya dari gejala fisik karena keluhannya mirip penyakit lain. Perlu pemeriksaan laboratorium melalui tes darah untuk memastikan diagnosisnya," tambah Dominicus.
Walaupun terdengar menakutkan, Dominicus menenangkan masyarakat dengan menjelaskan bahwa daya sebar Hantavirus jauh lebih rendah dibandingkan dengan campak. Dalam istilah medis, campak memiliki angka penularan sebesar 19, yang berarti satu orang dapat menularkan kepada 19 orang lainnya. Sementara itu, angka penularan Hantavirus sangat kecil dan virus ini cenderung jarang mengalami mutasi.
Di akhir pernyataannya, Piprim menekankan pentingnya menjaga kebersihan sebagai investasi kesehatan yang paling terjangkau. "Meneruskan perilaku hidup bersih dan sehat adalah upaya yang sangat murah namun efektif untuk mencegah berbagai penyakit menular, bahkan yang belum ada vaksinnya sekalipun," tutupnya.