Belakangan ini, istilah 'hamil anggur' atau mola hidatidosa menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna internet yang membagikan kisah dan kekhawatiran mereka mengenai kondisi kehamilan yang unik namun berisiko ini. Meskipun terdengar asing bagi sebagian orang, hamil anggur bukanlah fenomena baru, melainkan komplikasi kehamilan yang memerlukan penanganan medis segera.
Menurut Mayo Clinic, hamil anggur terjadi akibat pertumbuhan sel-sel trofoblas yang tidak normal. Sel-sel ini seharusnya berkembang menjadi plasenta yang memberi nutrisi pada janin, tetapi dalam kasus mola, sel-sel tersebut berubah menjadi sekumpulan kista berisi cairan yang menyerupai untaian buah anggur.
Jenis Hamil Anggur
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Eka Hospital PIK, dr. Krisantus Desiderius Jebada, menjelaskan bahwa terdapat dua kategori utama hamil anggur yang bisa dialami oleh perempuan produktif:
- Hamil anggur komplet: Kondisi di mana sel telur yang dibuahi 'kosong' atau tidak memiliki materi genetik dari ibu. Akibatnya, tidak ada janin yang terbentuk, hanya jaringan plasenta abnormal yang membengkak.
- Hamil anggur parsial: Dalam jenis ini, materi genetik dari ibu tetap ada, tetapi sperma yang membuahi berjumlah dua atau tiga, sehingga terjadi kelebihan kromosom (biasanya 69 kromosom, bukan 46). Janin mungkin sempat terbentuk, tetapi tidak akan bisa bertahan hidup dan biasanya berakhir dengan keguguran di awal kehamilan.
Penyebab dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Secara biologis, kehamilan normal dimulai dari pertemuan sel telur dan sperma yang masing-masing menyumbang 23 kromosom. Namun, pada hamil anggur, terjadi kegagalan sistematis. "Hamil anggur terjadi karena telurnya kosong lalu dibuahi dua atau tiga sperma," jelas Krisantus. Dia juga menegaskan bahwa kondisi ini bukanlah penyakit genetik atau keturunan. Jika seseorang pernah mengalaminya, hal itu bukan berarti ia membawa 'bakat' keturunan, melainkan murni kesalahan proses pembuahan pada saat itu.
Menurut Cleveland Clinic, pada tahap awal, hamil anggur sering kali terasa seperti kehamilan normal. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul gejala-gejala spesifik yang harus segera dikonsultasikan ke dokter, seperti:
- Pendarahan vagina yang biasanya berwarna cokelat tua hingga merah terang pada trimester pertama.
- Mual dan muntah hebat yang jauh lebih parah dari biasanya.
- Keluarnya kista, yaitu jaringan berbentuk seperti butiran anggur dari vagina.
- Nyeri panggul, dengan adanya tekanan atau rasa sakit di area panggul.
- Pertumbuhan rahim yang cepat, di mana ukuran perut terlihat jauh lebih besar dibandingkan usia kehamilan yang seharusnya.
- Kadar HCG yang sangat tinggi, di mana sel plasenta abnormal menghasilkan hormon beta HCG dalam jumlah sangat besar, bahkan bisa mencapai jutaan.
Risiko Penyakit Serius dan Kanker
Satu hal yang ditekankan oleh para ahli adalah pentingnya membersihkan jaringan mola hingga tuntas. Jika tidak dibersihkan melalui prosedur medis, jaringan ini bisa bersifat invasif. "Yang ditakutkan kalau dia tidak bersih. Jaringannya bisa masuk ke sistem darah dan menyebar ke mana-mana," ungkap Krisantus. Dalam beberapa kasus (kurang dari 15 persen), sisa jaringan tersebut dapat tumbuh ke lapisan otot rahim. Bahkan dalam kasus yang sangat jarang, hamil anggur bisa berkembang menjadi choriocarcinoma, sejenis kanker ganas yang memerlukan penanganan kemoterapi atau radiasi.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi termasuk preeklamsia (tekanan darah tinggi ekstrem), anemia, hingga sepsis atau infeksi darah. Deteksi dini melalui USG di trimester pertama adalah kunci utama. Jika terdiagnosa, jaringan harus segera dikeluarkan. Setelah prosedur pembersihan, pasien biasanya disarankan untuk menunda kehamilan kembali (ber-KB) dalam jangka waktu tertentu untuk memastikan kadar HCG kembali normal dan memastikan tidak ada jaringan abnormal yang tumbuh kembali.