Olahraga

Xi Jinping Tegaskan Pentingnya Inovasi Teknologi untuk China di Tengah Rivalitas Global

Presiden China, Xi Jinping, menekankan perlunya penguatan riset dasar dan inovasi teknologi dalam menghadapi persaingan global, khususnya dengan Amerika Serikat, dalam sebuah simposium di Shanghai pad...

A
Admin Fakta Lurus
10 May 2026 9 pembaca
Xi Jinping Tegaskan Pentingnya Inovasi Teknologi untuk China di Tengah Rivalitas Global
Sumber gambar: tekno.kompas.com

Presiden China, Xi Jinping, semakin menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi persaingan teknologi global, terutama dengan Amerika Serikat (AS). Dalam sebuah simposium yang berlangsung di Shanghai pada 30 April, ia menekankan pentingnya memperkuat fondasi sains dan teknologi di China di tengah rivalitas yang semakin meningkat dengan AS.

Xi mengungkapkan perlunya peningkatan riset dasar yang lebih konkret dan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas inovasi orisinal China. Ia menyatakan bahwa riset dasar adalah sumber dari seluruh sistem ilmiah dan menjadi “saklar utama” bagi berbagai permasalahan teknologi. Dalam pandangannya, dunia saat ini memasuki fase baru revolusi sains dan transformasi industri, di mana persaingan teknologi global kini bergeser ke area riset paling mutakhir, termasuk bidang-bidang yang masih berada di tahap dasar namun memiliki potensi untuk melahirkan teknologi masa depan.

Pentingnya Inovasi dan Riset Dasar

Dalam konteks ini, Xi menegaskan bahwa inovasi orisinal dan disruptif menjadi faktor penentu kekuatan suatu negara. Ia menyatakan, “Kita harus memanfaatkan peluang, menghadapi tantangan, menempatkan riset dasar sebagai prioritas utama, mengembangkannya secara berkelanjutan, dan terus berupaya meraih pencapaian.” Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan jangka panjang China yang sebelumnya disampaikan Xi dalam rapat parlemen nasional di Beijing, di mana ia mengalihkan sumber daya besar-besaran ke bidang-bidang seperti AI, komputasi kuantum, dan teknologi strategis lainnya untuk menghadapi rivalitas dengan AS.

Xi menambahkan bahwa persaingan antara kedua negara akan ditentukan oleh inovasi teknologi yang dapat mendorong kekuatan ekonomi, militer, dan budaya. Oleh karena itu, China semakin agresif dalam mengembangkan sektor-sektor teknologi baru, termasuk bio-manufaktur, energi hidrogen dan fusi, antarmuka otak-komputer, embodied intelligence, serta jaringan seluler 6G.

Strategi Menghadapi Pembatasan Teknologi AS

Dalam simposium tersebut, Xi juga menekankan pentingnya perencanaan menyeluruh dan desain tingkat atas dalam pengembangan riset dasar. Ia meminta agar target utama dan bidang prioritas diperjelas, serta memperkuat peran lembaga riset nasional dan universitas riset tingkat tinggi. Universitas-universitas seperti Tsinghua University dan Peking University berperan penting dalam strategi teknologi nasional, terlibat dalam pengembangan AI, semikonduktor, komputasi kuantum, dan riset pertahanan serta antariksa.

Selain itu, Xi berkeinginan untuk memperkuat integrasi antara industri, akademisi, penelitian, dan penerapan agar rantai inovasi dapat berjalan dengan lancar, dari riset dasar hingga tahap komersialisasi. Langkah ini berkaitan erat dengan pengalaman China menghadapi berbagai pembatasan teknologi dari AS dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah AS telah berulang kali membatasi akses China terhadap teknologi strategis, termasuk semikonduktor canggih.

Xi juga mendorong agar ekonomi dan militer China tidak rentan terhadap pemutusan akses semikonduktor canggih dan teknologi penting lainnya dari Barat. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya pengembangan talenta dan peningkatan dukungan terhadap riset dasar, termasuk pendanaan jangka panjang dan pembangunan infrastruktur sains dan teknologi utama.

Dengan langkah-langkah ini, China menunjukkan bahwa persaingan teknologi dengan AS bukan hanya soal produk atau perusahaan tertentu, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun kekuatan nasional yang berbasis pada sains dan teknologi.

Artikel Terkait