BREAKING Selasa, 16 Jun 2026 01:52 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Rabu, 20 Mei 2026 19:28 WIB

57 Juta Warga Indonesia Mengalami Hipertensi, Namun Hanya Sebagian Kecil yang Terkontrol

20 Mei 2026, 19:28 WIB 28x dibaca 2 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
T
Taufik Pranata 28x dibaca · 2 menit baca
57 Juta Warga Indonesia Mengalami Hipertensi, Namun Hanya Sebagian Kecil yang Terkontrol
Ilustrasi. Masih sedikit orang Indonesia yang mengontrol penyakit hipertensi yang dideritanya. (iStock/GlobalStock)

Jakarta, CNN Indonesia -- Saat ini, terdapat sekitar 57 juta penduduk Indonesia yang menderita hipertensi. Sayangnya, hanya sebagian kecil dari jumlah tersebut, yakni kurang dari 20 persen, yang berhasil mengontrol tekanan darah mereka. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Indonesian Society of Hypertension (INASH), Eka Harmeiwati, yang menyoroti tingginya angka komplikasi hipertensi di Indonesia, termasuk risiko stroke, gagal jantung, dan gagal ginjal.

"Di Indonesia itu menurut Kemenkes sekarang ada 57 juta penderita hipertensi. Bayangkan, 57 juta. Dan yang terkontrol itu cuma sedikit, tidak sampai 20 persen," ujar Eka saat menghadiri acara peluncuran SF Series yang diselenggarakan oleh Omron di Jakarta Selatan pada Rabu (20/5).

Penyebab Hipertensi Sering Tidak Disadari

Eka menjelaskan bahwa hipertensi sering kali tidak disadari oleh penderitanya karena gejalanya muncul secara perlahan. Banyak orang baru menyadari mereka memiliki tekanan darah tinggi setelah mengalami komplikasi serius. "Hipertensi ini menimbulkan gejalanya lamban, bisa 10 tahun kemudian," tambahnya.

Menurut Eka, hipertensi dapat merusak dinding pembuluh darah secara bertahap dalam jangka panjang. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk rutin memeriksa tekanan darah mereka mulai usia 18 tahun.

Ia juga menekankan bahwa hipertensi tidak hanya berhubungan dengan risiko stroke atau penyakit jantung, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga demensia.

Risiko Atrial Fibrillation dan Faktor Penyebab

Lebih lanjut, hipertensi dapat menyebabkan gangguan irama jantung atau atrial fibrillation (AF), yang dapat membuat detak jantung tidak teratur dan meningkatkan risiko stroke. "AF itu bisa meningkatkan risiko stroke sampai lima kali. Dan 20 sampai 30 persen pasien stroke iskemik itu karena AF," jelas Eka.

Ia mencatat bahwa sekitar 60-80 persen kasus atrial fibrillation berkaitan dengan hipertensi, dan sekitar 10 persen pasien hipertensi dapat mengalami gangguan irama jantung tersebut.

Eka juga menyoroti tingginya faktor risiko hipertensi di Indonesia, terutama dari kebiasaan merokok dan konsumsi garam yang berlebihan. "Merokok itu di Asia Tenggara, Indonesia itu penyebab hipertensi paling tinggi," katanya.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat Asia, termasuk Indonesia, memiliki sensitivitas tinggi terhadap garam, sehingga lebih rentan mengalami peningkatan tekanan darah akibat konsumsi makanan asin.

Dengan demikian, Eka menekankan pentingnya pencegahan sejak dini melalui pola hidup sehat, seperti berolahraga secara rutin, menjaga berat badan, tidur yang cukup, dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala. "Kalau faktor risiko itu bisa diminimalkan, berarti kita bisa mencegah hipertensi, sekaligus mencegah AF dan stroke," tutupnya.