BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 03:42 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Selasa, 23 Jun 2026 16:21 WIB

Aksi Mogok Pedagang Daging di Magelang dan Salatiga, Pemprov Jateng Respons Lonjakan Harga Sapi

23 Jun 2026, 16:21 WIB 26x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
F
Fadil Ramadhan Akbar 26x dibaca · 3 menit baca
Aksi Mogok Pedagang Daging di Magelang dan Salatiga, Pemprov Jateng Respons Lonjakan Harga Sapi
regional.kompas.com

MAGELANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memberikan pernyataan mengenai aksi mogok yang dilakukan oleh sejumlah pedagang daging sapi di Kota Salatiga dan Kota Magelang baru-baru ini. Pemprov Jateng sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk mencegah agar aksi protes ini tidak menyebar ke kota atau kabupaten lain di wilayah Jawa Tengah.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Himawan Wahyu Pamungkas, mengakui bahwa harga sapi hidup dan daging sapi murni di tingkat konsumen mengalami kenaikan yang signifikan sepanjang tahun 2026. “Kenaikan harga saat ini masih di bawah HAP (harga acuan penjualan/pembelian). Meski, dari penjualan di tingkat konsumen, kami harus menjaga agar kenaikan ini tidak menimbulkan inflasi,” jelas Himawan saat diwawancarai di Kota Magelang.

Kenaikan Harga Daging Sapi

Berdasarkan data resmi dari Badan Pangan Nasional, Himawan menjelaskan bahwa harga daging sapi hidup mengalami peningkatan berkala, dari sekitar Rp 50.000 per kilogram pada Januari menjadi Rp 55.000 per kilogram pada Juni 2026. Dia juga mencatat bahwa harga daging sapi segar di tingkat konsumen meningkat dari rata-rata Rp 130.000 per kilogram pada Januari menjadi Rp 136.000 per kilogram di bulan Juni. “HAP sapi hidup Rp 56.000 per kilogram. Sementara, HAP daging sapi di tingkat konsumen Rp 140.000 per kilogram,” ungkap Himawan menjelaskan batas aman yang ditetapkan pemerintah.

Faktor Penyebab Lonjakan Harga

Himawan menegaskan bahwa perbedaan harga antara data Badan Pangan Nasional dan kenyataan di lapangan adalah hal yang wajar. Variasi ini dapat terjadi karena dinamika yang kompleks serta sistem niaga dalam rantai distribusi. Menurutnya, lonjakan harga daging sapi saat ini disebabkan oleh tingginya permintaan masyarakat menjelang pertengahan tahun. Dia juga menolak isu yang menyatakan bahwa kenaikan harga daging lokal dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, terutama terkait pasokan sapi impor maupun daging beku.

Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah berkomitmen untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh pedagang daging sapi di Salatiga dan Magelang yang menyebabkan aksi mogok. Dinas ini juga melakukan pemetaan untuk mencegah aksi mogok menjalar ke daerah lain. “Perlu ada stabilisasi pasokan antarwilayah. Kami upayakan dengan penambahan populasi (sapi),” kata Himawan mengenai solusi jangka pendek yang sedang diupayakan.

Dengan strategi stabilisasi pasokan, Himawan menyatakan bahwa daerah yang surplus dapat segera menyuplai sapi hidup ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan daging sapi.

Dalam catatan peliputan, para pedagang daging sapi di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, telah melakukan aksi mogok selama tiga hari berturut-turut pada 18-20 Juni. Kondisi ini menyebabkan lapak-lapak daging di pasar tersebut kosong dan dikeluhkan oleh pelaku usaha kuliner. Aksi solidaritas serupa juga dilakukan oleh komunitas pedagang daging sapi di Pasar Raya Salatiga, yang memutuskan untuk mogok selama lima hari penuh mulai 22 Juni 2026.