BREAKING Sabtu, 20 Jun 2026 02:05 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Sabtu, 20 Jun 2026 01:05 WIB

Ancaman DBD Meluas, Waspadai Komplikasi di Semua Usia

20 Jun 2026, 01:05 WIB 1x dibaca 4 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
B
Bagas Prakoso 1x dibaca · 4 menit baca
Ilustrasi. Waspada demam berdarah, bisa mneyerang berbagai usia. (REUTERS/Rodolfo Buhrer)
Ilustrasi. Waspada demam berdarah, bisa mneyerang berbagai usia. (REUTERS/Rodolfo Buhrer)

Jakarta, DBD atau Demam Berdarah Dengue tetap menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Penyakit ini, yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti, sering kali dianggap hanya menyerang anak-anak. Namun, data terbaru mengindikasikan bahwa DBD kini menjadi ancaman bagi semua usia, termasuk orang dewasa.

Menurut informasi dari Kementerian Kesehatan per Januari 2026, dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada anak-anak berusia 5-14 tahun, yang menyumbang 41 persen dari total kematian akibat DBD pada tahun 2025. Ini menunjukkan bahwa anak-anak masih menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal dari infeksi dengue.

Kasus DBD Meningkat di Kalangan Dewasa

Namun, ancaman DBD tidak terbatas pada anak-anak. Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15-44 tahun, mencapai 42 persen dari total kasus pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa DBD bukan hanya penyakit anak, tetapi juga dapat menyerang siapa saja.

Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Hartono Gunardi, menegaskan bahwa masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu. "Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera," ujarnya saat menghadiri acara ABCD Land - Ayo Bersama Cegah DBD yang diselenggarakan oleh Takeda.

Hartono menambahkan bahwa perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah pencegahan. Langkah-langkah seperti menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap sangat penting dilakukan.

Pentingnya Vaksinasi dan Pencegahan Komprehensif

“Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD. Karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka,” tambahnya.

Dia juga menyatakan bahwa IDAI telah merekomendasikan vaksin dengue untuk anak sebagai bagian dari upaya perlindungan optimal terhadap DBD. Sementara itu, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe, mengingatkan bahwa orang dewasa juga berisiko mengalami infeksi dengue dengan komplikasi serius. "DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius," ujarnya.

Sukamto menjelaskan bahwa risiko komplikasi meningkat pada individu yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas. Penderita hipertensi memiliki risiko komplikasi dua hingga tiga kali lebih tinggi, sedangkan pada pasien diabetes melitus, risiko tersebut meningkat menjadi tiga hingga lima kali lebih tinggi. Pada penderita penyakit ginjal, risiko dapat meningkat hingga tujuh kali, dan bagi mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronis, risiko tersebut dapat meningkat dua hingga 12 kali dibandingkan pasien tanpa komorbiditas.

DBD tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hidup pasien serta keluarganya. "Pencegahan yang komprehensif perlu menjadi perhatian seluruh kelompok usia. PAPDI telah merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18-60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan yang komprehensif," kata Sukamto.

Meningkatnya kasus DBD dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian berbagai pihak. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, menyatakan bahwa beban penyakit dengue di Indonesia terus bertambah dan memerlukan upaya pencegahan yang lebih kuat. "Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa kita belum bisa berpuas diri dan tidak boleh lengah," ujarnya.

Dia menekankan bahwa upaya pencegahan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat luas agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat mengambil langkah perlindungan yang tepat sebelum terlambat.

Sebagai bagian dari upaya edukasi publik, PT Takeda Innovative Medicines menggelar kegiatan bertajuk 'ABCD Land - Ayo Bersama Cegah DBD' pada 20-21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Langkah Bersama Cegah DBD yang telah dijalankan sejak 2023 bersama berbagai mitra, termasuk Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat.