Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak perempuan yang masih merasa ragu ketika ingin mendonorkan darah saat sedang haid. Keluarnya darah setiap bulan selama menstruasi membuat sebagian orang khawatir akan kehilangan terlalu banyak darah jika tetap melakukan donor. Lalu, apakah aman untuk mendonorkan darah saat haid?
Donor darah merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang dapat menyelamatkan banyak nyawa. Setiap kantong darah yang didonorkan memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pasien yang menjalani operasi, perawatan penyakit tertentu, hingga penanganan kondisi darurat.
Kelayakan Donor Darah Saat Menstruasi
Meskipun demikian, terdapat beberapa kondisi yang sering menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan donor darah, terutama bagi perempuan. Salah satu yang paling sering menjadi perhatian adalah masa menstruasi. Banyak perempuan yang ragu untuk mendonorkan darah karena khawatir kondisi tubuh akan menjadi lemas atau kesehatan terganggu setelah melakukan donor. Oleh karena itu, penting untuk memahami syarat dan ketentuan kesehatan yang berlaku sebelum melakukan donor darah.
Perempuan tetap diperbolehkan untuk mendonorkan darah saat sedang haid asalkan kondisi kesehatannya baik dan memenuhi persyaratan donor darah yang berlaku. Menurut Charles Medical, menstruasi menyebabkan tubuh kehilangan sejumlah darah dan zat besi setiap bulan. Zat besi sendiri berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Risiko dan Saran Sebelum Donor
Bagi perempuan yang mengalami menstruasi ringan hingga sedang, kehilangan zat besi umumnya dapat tergantikan kembali melalui asupan makanan sebelum siklus berikutnya. Oleh karena itu, kondisi ini biasanya tidak memengaruhi kelayakan untuk mendonorkan darah. Namun, situasi berbeda dapat terjadi pada perempuan yang mengalami menstruasi berat atau berkepanjangan, di mana kehilangan darah yang lebih banyak dapat menurunkan cadangan zat besi dan kadar hemoglobin.
Akibatnya, kemungkinan untuk tidak lolos pemeriksaan kesehatan sebelum donor menjadi lebih besar. Menurut Our Blood Institute, menstruasi tidak secara otomatis membuat seseorang dilarang untuk mendonorkan darah. Tubuh umumnya mampu mengatasi kehilangan darah akibat menstruasi dan donor darah secara bersamaan. Namun, pemeriksaan hemoglobin tetap menjadi syarat wajib sebelum proses donor dilakukan.
Sebelum melakukan donor darah, petugas akan memeriksa kadar hemoglobin melalui tes darah sederhana dari ujung jari. Ambang batas minimal hemoglobin bagi perempuan adalah 12,5 g/dL atau setara dengan 125 gram per liter. Jika hasil pemeriksaan berada di bawah batas tersebut, donor akan ditunda hingga kadar hemoglobin kembali normal. Selain itu, perempuan yang mengalami kelelahan, pusing, lemas, atau perdarahan menstruasi yang sangat banyak sebaiknya menunda donor darah sampai kondisi tubuh membaik.
Untuk membantu menjaga kadar hemoglobin, calon pendonor disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, seperti daging merah, hati, ikan berlemak, bayam, kacang-kacangan, tahu, quinoa, dan sereal yang diperkaya zat besi. Konsumsi vitamin C dari buah-buahan juga dapat membantu penyerapan zat besi secara optimal.
Menurut World Health Organization (WHO), sebagian besar orang dapat mendonorkan darah jika berada dalam kondisi sehat dan memenuhi sejumlah persyaratan dasar. Persyaratan tersebut meliputi usia 18-65 tahun, berat badan minimal 50 kilogram, serta tidak sedang mengalami flu, infeksi, demam, atau gangguan pencernaan. Selain itu, tidak sedang hamil atau menyusui, serta tidak memiliki riwayat perilaku berisiko yang dapat memengaruhi keamanan donor darah.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan apakah boleh mendonorkan darah saat haid adalah boleh. Selama kondisi tubuh sehat, kadar hemoglobin mencukupi, dan seluruh persyaratan donor darah terpenuhi, perempuan tetap dapat mendonorkan darah meskipun sedang menstruasi.