BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:07 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Rabu, 22 Jul 2026 07:09 WIB

Apakah Overthinking Itu Normal? Simak Penjelasan Dokter

22 Jul 2026, 07:09 WIB 82x dibaca 2 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
Z
Zahra Asma Nabila 82x dibaca · 2 menit baca
Dewan Pengawas BPJS Kesehatan dr Lula Kamal berbicara soal overthinking di Wellnest Festival Vol.2, Selasa (21/7). (CNNIndonesia/Angela)
Dewan Pengawas BPJS Kesehatan dr Lula Kamal berbicara soal overthinking di Wellnest Festival Vol.2, Selasa (21/7). (CNNIndonesia/Angela)

Jakarta, CNN Indonesia -- Overthinking sering kali dianggap sebagai kebiasaan yang tidak baik dan sebaiknya dihindari. Namun, menurut dokter sekaligus anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Lula Kamal, berpikir berlebihan dalam batas tertentu sebenarnya adalah hal yang normal. Yang perlu diperhatikan adalah ketika pikiran tersebut berubah menjadi beban yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

Stres sebagai Respons Alami

Menurut Lula, stres dan rasa khawatir adalah respons alami yang dimiliki oleh setiap individu. Bahkan, kedua hal tersebut dapat menjadi pendorong untuk meningkatkan performa seseorang. "Tahu enggak sih kalau yang namanya stres itu ada yang eustress, ada yang distress. Tapi stres itu kita butuh sebetulnya," ungkap Lula dalam acara talkshow CNN Indonesia Wellnest Festival Vol. 2 yang berlangsung di South Quarter Dome, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Selasa (21/7).

Lula menjelaskan bahwa dalam psikologi terdapat dua jenis stres, yaitu eustress dan distress. Eustress adalah jenis stres yang memberikan dampak positif dan dapat memotivasi seseorang untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Sebaliknya, distress adalah stres yang justru membuat individu kesulitan untuk beraktivitas.

Contoh Overthinking dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagai ilustrasi, Lula memberikan contoh mengenai seseorang yang akan menghadapi ujian. "Coba nih, kamu mau ujian misalkan. Kalau kamu enggak stres, nyantai aja enggak usah belajar," ujarnya. Ia juga membagikan pengalamannya saat menjadi pembawa acara. "Pas mau nge-MC, kan, kita mesti mikirin, ah mesti persiapan. Karena takut nge-MC-nya gagal. Waktu takut nge-MC-nya gagal, artinya ada stres di sana. Selama stresnya jadi eustress, bikin motivasi buat kita supaya mengerjakan lebih baik, it's quite okay," jelasnya.

Rasa khawatir yang mendorong seseorang untuk belajar, berlatih, atau mempersiapkan diri bukanlah sesuatu yang perlu dihindari. Namun, masalah muncul ketika rasa khawatir membuat seseorang tidak mampu melakukan apapun. Lula menggarisbawahi bahwa kondisi tersebut disebut sebagai distress. "Tapi kalau distress, gara-gara stres malah enggak bisa ngapa-ngapain. Ngomong di mic aja udah langsung tuh berantakan. Nah itu artinya dia distress," katanya.

Oleh karena itu, ia menilai bahwa overthinking masih tergolong normal selama tidak berlebihan. "Stres itu butuh. Overthinking sedikit-sedikit boleh. Tapi jangan kebanyakan. Boleh normal tapi sedikit, sedikit aja," pungkasnya.

Lula menekankan bahwa rasa khawatir bukanlah musuh yang harus dihilangkan sepenuhnya. Sebaliknya, kekhawatiran dalam kadar yang tepat justru dapat berfungsi sebagai alarm agar seseorang lebih siap menghadapi berbagai situasi. Ketika pikiran tersebut mulai mengganggu pekerjaan, belajar, atau aktivitas sehari-hari, kondisi itu perlu diwaspadai dan jika perlu, dikonsultasikan kepada tenaga profesional.