BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:11 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Kamis, 09 Jul 2026 15:08 WIB

Bahaya Kesehatan Akibat Kebakaran TPA Jatiwaringin yang Mengancam Anak-anak

09 Jul 2026, 15:08 WIB 91x dibaca 2 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
T
Taufik Pranata 91x dibaca · 2 menit baca
Tingginya paparan polutan akibat kebakaran TPA Jatiwaringin bisa membahayakan kesehatan masyarakat di sekitarnya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Tingginya paparan polutan akibat kebakaran TPA Jatiwaringin bisa membahayakan kesehatan masyarakat di sekitarnya. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, CNN Indonesia -- Kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, mengeluarkan polutan berbahaya yang dapat mengancam kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Cynthia Centauri.

Risiko Kesehatan dari Pembakaran Material Berbahaya

Cynthia menjelaskan bahwa kebakaran di lokasi pembuangan sampah sangat berisiko karena berbagai jenis material, termasuk plastik, terbakar. Pembakaran plastik dapat menghasilkan zat-zat berbahaya yang berdampak negatif bagi kesehatan. "Kalau yang terbakar itu sampahnya bermacam-macam, apalagi ada sampah plastik, memang sangat berbahaya. Salah satunya menghasilkan dioksin atau furan yang risikonya sangat tinggi," ungkapnya dalam konferensi pers pada Selasa (7/7), seperti dilansir detikhealth.

Paparan dioksin dan furan tidak hanya dapat mengganggu pernapasan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan saraf dan kanker. Dampak dari polusi udara ini dapat dirasakan dengan cepat, terutama oleh anak-anak yang memiliki riwayat masalah pernapasan. "Begitu polusi udara terhirup, efeknya bisa langsung dirasakan. Terutama pada pasien yang punya asma, bisa langsung memicu serangan," tambahnya.

Pentingnya Evakuasi dan Perlindungan Diri

Cynthia mengimbau agar warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran segera dievakuasi jika kualitas udara sudah membahayakan. Evakuasi menjadi prioritas utama dalam situasi seperti ini. "Kalau memang kadar polutannya sedemikian tinggi dan padat, tidak memungkinkan untuk bernapas dan mengancam nyawa, harus dievakuasi tentunya orang-orang atau warga di sekitar tempat tersebut," jelasnya.

Apabila evakuasi tidak memungkinkan, ia menyarankan agar warga tetap berada di dalam rumah dan menutup ventilasi untuk mencegah masuknya polusi. Penggunaan air purifier juga disarankan jika tersedia. "Kalau memang harus keluar rumah, mungkin kita gunakan alat pelindung diri (APD). Kita cek terus bagaimana kadar polusi di luar rumah," tambahnya. Masker juga perlu digunakan, terutama untuk anak-anak berusia 3 tahun yang terpaksa harus beraktivitas di luar rumah.