Jakarta – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) sekaligus Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, mengingatkan semua kementerian dan lembaga untuk mengambil langkah-langkah awal dalam menghadapi kemungkinan El Nino yang kuat pada tahun 2026. Ia menegaskan bahwa penanganan dampak perubahan iklim tidak boleh lagi bersifat reaktif, melainkan harus didasarkan pada antisipasi, analisis ilmiah, dan koordinasi antar sektor.
Dialog Nasional sebagai Momentum
Rachmat menjelaskan bahwa Dialog Nasional Respons Lintas Sektor Menghadapi Dampak El Nino Kuat Tahun 2026 merupakan kesempatan penting untuk menyatukan langkah semua pemangku kepentingan dalam mengurangi risiko bencana terkait iklim. Ia menekankan bahwa respons yang dibangun harus terukur dan menjadi bagian dari rencana aksi nasional. "Kita harus memastikan bahwa respons yang kita bangun tidak hanya lagi bersifat reaktif melainkan sebuah aksi dini atau early action yang terpadu, terukur, dan berakar kuat pada analisis iklim kita," ujarnya di Jakarta pada Selasa (4/8/2026).
Pentingnya Kolaborasi dan Intervensi Sektoral
Rachmat juga menekankan bahwa dasar dari keberlanjutan pembangunan nasional dan ketahanan Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global terletak pada sains dan kolaborasi lintas sektor. Oleh karena itu, ia mengajak semua kementerian dan lembaga untuk menjadikan dialog tersebut sebagai landasan dalam merumuskan langkah-langkah konkret untuk jangka pendek, menengah, dan panjang.
Menurutnya, dampak El Nino sudah mulai terlihat melalui curah hujan yang di bawah normal dari Juli hingga Oktober, yang dapat mengganggu ketersediaan air bersih, meningkatkan titik panas, memicu kebakaran hutan dan lahan, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Ia menekankan bahwa intervensi pemerintah harus difokuskan pada sektor-sektor seperti pertanian, kehutanan, kesehatan, sumber daya air, energi, dan kelautan agar dampak perubahan iklim tidak mengganggu stabilitas nasional dan target pembangunan menuju Indonesia Emas.
Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa kementeriannya telah melakukan antisipasi terhadap potensi El Nino sejak beberapa bulan lalu. Salah satu langkah yang diambil adalah mempercepat pembangunan sumur bor untuk menjaga pasokan air saat debit sungai dan bendungan menurun pada musim kemarau. “Kalau El Nino sebetulnya antisipasinya sudah kita kerjakan mungkin dua sampai tiga bulan lalu. Yang jadi masalah kan sungai mengering, bendungan juga mengering. Kita memang lagi banyak melakukan pengeboran untuk mencari sumber-sumber air tanah,” jelas Dody.
Dody menambahkan bahwa Kementerian PU bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memanfaatkan teknologi isotop untuk menemukan sumber air tanah. Teknologi ini diterapkan untuk memperkuat ketahanan air nasional dan menjaga produktivitas sektor pertanian. “Supaya kemudian swasembada pangan di 2026, 2027 tetap bisa terjaga,” pungkasnya. Ia juga menekankan bahwa pembangunan sumur bor berteknologi modern akan terus dipercepat di berbagai daerah agar pasokan air untuk jaringan irigasi tetap tersedia, sehingga petani dapat terus bercocok tanam meskipun di musim kemarau.