BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 09:09 WIB
Berita Terkini Kamis, 09 Jul 2026 06:03 WIB

BMKG Awasi Muka Air Laut Selama Erupsi Gunung Anak Krakatau

09 Jul 2026, 06:03 WIB 89x dibaca 2 menit baca news.detik.com news.detik.com
T
Taufik Pranata 89x dibaca · 2 menit baca
Foto: Gunung Anak Krakatau erupsi Rabu (8/7) pagi (Dok. Istimewa)
Foto: Gunung Anak Krakatau erupsi Rabu (8/7) pagi (Dok. Istimewa)

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sedang memantau kondisi muka air laut di Selat Sunda selama berlangsungnya erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan ini telah dilakukan selama beberapa hari terakhir.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyatakan, "BMKG terus memonitor aktivitas muka air laut akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sudah beberapa hari ini kita terus monitor," ketika berbicara kepada wartawan pada Kamis (9/7/2026).

Hasil Pemantauan Sementara

Menurut hasil pemantauan yang dilakukan, belum ada tanda-tanda aktivitas yang signifikan terkait erupsi Gunung Anak Krakatau. Wijayanto menegaskan bahwa tidak ada kenaikan muka air laut yang terdeteksi. "Sampai saat ini belum ada aktivitas yang signifikan. Belum ada anomali kenaikan muka air laut akibat erupsi dari peralatan yang dimonitor BMKG," ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa dampak dari abu vulkanik yang dihasilkan oleh erupsi bersifat lokal. Sebaran abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang, yang berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran. "Secara umum, erupsi Anak Gunung Krakatau tidak secara langsung memengaruhi cuaca dalam skala luas, sehingga dampak yang perlu diwaspadai lebih bersifat lokal, terutama penyebaran abu vulkanik. Kondisi ini dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin, sehingga dapat menurunkan jarak pandang, memengaruhi kualitas udara, serta berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan dan pelayaran. BMKG terus memantau kondisi atmosfer untuk mengantisipasi potensi sebaran abu vulkanik," tambahnya.

Arah Sebaran Abu Vulkanik

Wijayanto juga menyampaikan bahwa arah dominan dari abu vulkanik yang dihasilkan erupsi mengarah ke Provinsi Lampung. Namun, hingga saat ini, abu vulkanik yang terlepas tidak terlalu tinggi dan belum mencapai wilayah Lampung. "Angin lemah dominan ke arah Barat Laut atau ke Lampung. Asap juga tidak tinggi kemungkinan tidak sampai Lampung sudah jatuh di laut," ungkapnya.

Gunung Anak Krakatau diketahui masih mengalami erupsi dengan tiga kali letusan yang terjadi pada Rabu (8/7) pagi. Letusan terakhir menghasilkan kolom abu setinggi 100 meter. Berdasarkan data dari PVMBG, erupsi pertama terjadi pada pukul 08.42 WIB, diikuti oleh erupsi kedua pada pukul 09.35 WIB, dan yang ketiga pada pukul 09.54 WIB, dengan tinggi kolom teramati sekitar 100 meter di atas puncak gunung, atau sekitar 257 meter di atas permukaan laut. "Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut," tulis PVMBG dalam keterangannya.

Saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (Siaga). PVMBG merekomendasikan masyarakat untuk tidak mendekati puncak Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.