BREAKING Rabu, 01 Jul 2026 03:42 WIB
Home / Regional / Detail
Regional Kamis, 25 Jun 2026 07:52 WIB

Dampak Abrasi di Bengkulu: 712 Hektare Pesisir Hilang dalam Dua Dekade

25 Jun 2026, 07:52 WIB 19x dibaca 3 menit baca regional.kompas.com regional.kompas.com
K
Komang Yoga 19x dibaca · 3 menit baca
Dampak Abrasi di Bengkulu: 712 Hektare Pesisir Hilang dalam Dua Dekade
regional.kompas.com

BENGKULU - Yayasan Genesis Bengkulu mengungkapkan bahwa sejak tahun 2002 hingga 2024, Provinsi Bengkulu telah kehilangan daratan pesisir seluas 712,81 hektare akibat abrasi. Temuan ini menjadi perhatian serius mengenai kondisi kawasan pesisir yang terus mengalami tekanan selama lebih dari dua dekade. Data ini disampaikan oleh Kepala Divisi Riset dan Kajian Agraria Yayasan Genesis Bengkulu, Selvia Ayunetra, berdasarkan kajian terbaru yang dilakukan pada tahun 2026.

“Berdasarkan hasil kajian kami pada 2026 ini, sepanjang periode 2002 sampai 2024 telah terjadi kehilangan daratan seluas 712,81 hektare yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota,” jelas Selvia di Bengkulu, Rabu (24/6/2026).

Penyebab Hilangnya Daratan Pesisir

Apa yang menjadi penyebab utama hilangnya daratan pesisir? Selvia menjelaskan bahwa abrasi merupakan faktor utama yang menyebabkan hilangnya daratan di wilayah pesisir Bengkulu. Fenomena ini disebabkan oleh pengikisan garis pantai yang terjadi akibat gelombang laut yang terus menerus. Kajian yang dilakukan menggunakan citra satelit bertujuan untuk memantau perubahan kawasan pesisir secara akurat dalam jangka panjang. Dengan pendekatan ini, perubahan garis pantai dapat diidentifikasi secara detail dari waktu ke waktu.

Selvia menambahkan bahwa hasil kajian ini tidak hanya mencerminkan kondisi terkini, tetapi juga menjadi dasar bagi berbagai pihak untuk merumuskan langkah penanganan yang tepat.

Ancaman dan Dampak Abrasi

Mengapa abrasi menjadi ancaman serius? Abrasi pesisir tidak hanya mengakibatkan hilangnya daratan, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut. Oleh karena itu, masalah ini dianggap memiliki dampak luas terhadap keberlanjutan wilayah pesisir. “Untuk abrasi sendiri, bahkan sampai beberapa tahun ke depan kita masih akan terus amati, karena ini berkaitan dengan keselamatan Provinsi Bengkulu itu sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, abrasi juga berdampak pada berbagai sektor penting, termasuk: permukiman warga yang berada dekat garis pantai, fasilitas umum seperti jalan dan bangunan publik, lahan produktif untuk kegiatan ekonomi, serta ekosistem pesisir yang berfungsi sebagai pelindung alami.

Dalam Kajian Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu 2026, disebutkan bahwa sepanjang 190,24 kilometer garis pantai mengalami abrasi aktif. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah pesisir Bengkulu berada dalam kondisi rentan. Kajian tersebut juga mencatat bahwa 1.885 unit bangunan berada di zona sangat rentan terhadap abrasi, sementara 52 bangunan berada dalam kondisi kritis karena jaraknya kurang dari 20 meter dari garis pantai aktif. Data ini menunjukkan bahwa ancaman abrasi tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.

Langkah Penanganan ke Depan

Yayasan Genesis Bengkulu menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap kawasan pesisir. Langkah ini diperlukan untuk memastikan perkembangan abrasi dapat diantisipasi sejak dini. Selain itu, mereka juga mendorong keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga masyarakat, dalam upaya penanganan abrasi. Pendekatan kolaboratif ini diharapkan dapat menghasilkan kebijakan dan tindakan yang lebih terukur serta berkelanjutan.