BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:08 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Senin, 20 Jul 2026 06:57 WIB

Dampak Konflik AS-Iran terhadap Perdagangan dan Energi: Tindakan Antisipatif Diperlukan

20 Jul 2026, 06:57 WIB 87x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
G
Galih Lingga Pradipta 87x dibaca · 2 menit baca
Foto: EPA/CHRIS TORRES
Foto: EPA/CHRIS TORRES

JAKARTA – Pemerintah Indonesia perlu bersiap menghadapi konsekuensi dari konflik yang berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang dapat memengaruhi perdagangan internasional serta ketahanan energi. Tindakan ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian dalam geopolitik global.

Teuku Rezasyah, Direktur Eksekutif Global Insight Forum (GIF), mengungkapkan bahwa peningkatan ketegangan antara AS dan Iran menunjukkan bahwa dinamika geopolitik saat ini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kepentingan geoekonomi, keamanan energi, dan jalur perdagangan internasional. Dia menambahkan, "Berbagai inisiatif diplomasi yang telah ditempuh belum menghasilkan penyelesaian permanen karena masih rendahnya tingkat kepercayaan antar pihak serta terbatasnya efektivitas mekanisme internasional dalam mengelola konflik."

Potensi Dampak pada Ekonomi Global

Menurut Teuku, konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dapat memberikan tekanan signifikan pada perekonomian global, terutama jika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terganggu. Selat ini merupakan salah satu rute utama untuk distribusi minyak dan perdagangan internasional.

Gangguan terhadap arus logistik global diperkirakan dapat meningkatkan biaya pengiriman, mengganggu rantai pasok, serta mendorong kenaikan harga energi dan komoditas lainnya. Hal ini berpotensi berdampak pada aktivitas perdagangan dan stabilitas ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, Teuku menekankan pentingnya pemerintah untuk memperkuat ketahanan ekonomi melalui diversifikasi pasar ekspor, penguatan rantai pasok, dan diplomasi ekonomi yang adaptif.

Peluang Indonesia sebagai Negara Middle Power

Teuku juga menyatakan bahwa posisi Indonesia sebagai negara yang menerapkan politik luar negeri bebas aktif merupakan modal penting untuk memperluas kerja sama ekonomi dan menjaga stabilitas kawasan. Dia menambahkan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat perannya sebagai negara middle power yang dapat menjembatani dialog antarnegara dan mendukung terciptanya stabilitas yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi global.

Mulawarman Hannase, Kepala Program Studi Kewilayahan Timur Tengah Universitas Indonesia (UI), menjelaskan bahwa dinamika di Timur Tengah kini semakin dipengaruhi oleh kepentingan energi, jalur perdagangan internasional, teknologi, dan geoekonomi. Dia mencatat, "Pergeseran tersebut sekaligus memperlihatkan munculnya negara-negara middle power yang mulai memainkan peran lebih independen dalam menentukan arah politik kawasan tanpa bergantung sepenuhnya pada Amerika Serikat maupun kekuatan besar lainnya."

Chandra Purnama, Senior Fellow GIF, menambahkan bahwa efektivitas diplomasi multilateral akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas global di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik. "Oleh karena itu, penyelesaian konflik di masa depan diperkirakan akan semakin bergantung pada peran negara-negara middle power yang mampu membangun keseimbangan baru melalui diplomasi multilateral," ujarnya.