BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 05:09 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Selasa, 04 Agt 2026 11:38 WIB

Dampak Negatif Menonton TV Terlalu Sering pada Kesehatan Otak

04 Agt 2026, 11:38 WIB 54x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
R
Rizky Ananta 54x dibaca · 3 menit baca
Ilustrasi. Studi terbaru menemukan bahwa keseringan menonton TV berkaitan dengan perubahan struktur otak yang dapat memengaruhi kesehatan kognitif. (iStockphoto/SB Arts Media)
Ilustrasi. Studi terbaru menemukan bahwa keseringan menonton TV berkaitan dengan perubahan struktur otak yang dapat memengaruhi kesehatan kognitif. (iStockphoto/SB Arts Media)

Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak individu menghabiskan waktu dengan menonton televisi sebagai cara untuk bersantai setelah seharian beraktivitas. Meskipun menonton TV dapat memberikan kesenangan dan membantu tubuh serta pikiran menjadi lebih rileks, sebuah studi terkini mengungkapkan bahwa kebiasaan ini dapat berhubungan dengan penyusutan beberapa area otak yang berperan penting dalam berpikir dan daya ingat.

Hubungan Antara Menonton TV dan Penyusutan Otak

Temuan ini juga menunjukkan adanya peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif di masa mendatang. Menurut Prevention, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's & Dementia: Journal of the Alzheimer's Association melibatkan lebih dari 1.700 orang dewasa dengan rata-rata usia 53 tahun. Peneliti meminta peserta untuk melaporkan seberapa sering mereka menonton televisi saat waktu luang dan berapa lama mereka duduk saat bekerja.

Setelah sekitar 20 tahun, pemindaian otak menggunakan MRI dilakukan untuk mengamati perubahan yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengaku "sangat sering" menonton TV saat waktu luang memiliki volume otak yang lebih kecil di beberapa area yang berkaitan dengan tanda awal penyakit Alzheimer. Selain itu, mereka juga menunjukkan lebih banyak white matter hyperintensities, yang merupakan perubahan pada jaringan otak yang sering dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif dan demensia.

Perbedaan Berdasarkan Jenis Kelamin

Penelitian juga menemukan bahwa ukuran lobus frontal dan lobus oksipital peserta cenderung lebih kecil. Lobus frontal berfungsi dalam perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian perilaku, sedangkan lobus oksipital berperan dalam memproses informasi visual. Meskipun demikian, peneliti menekankan bahwa studi ini tidak membuktikan bahwa menonton TV secara langsung menyebabkan penyusutan otak, melainkan hanya menemukan hubungan antara keduanya.

Analisis berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa hubungan antara kebiasaan menonton TV dan perubahan struktur otak lebih kuat pada pria dibandingkan wanita. Natan Feter, rekan peneliti, menyatakan bahwa perbedaan ini mungkin disebabkan oleh cara pria dan wanita menghabiskan waktu duduk yang berbeda. Wanita mungkin lebih sering menyela waktu duduk mereka, atau ada perbedaan biologis dalam respons otak terhadap perilaku sedentari yang berkepanjangan.

Ketua Departemen Neurologi di Tufts Medical Center, Soma Sengupta, menjelaskan bahwa menonton televisi umumnya tidak memerlukan keterlibatan mental yang tinggi. "Tidak seperti membaca, mempelajari keterampilan baru, atau menyelesaikan masalah di komputer, menonton televisi sering kali hanya memerlukan sedikit keterlibatan mental secara aktif. Kurangnya stimulasi kognitif dapat membuat jaringan otak yang bertanggung jawab atas perencanaan, memori, dan perhatian menjadi kurang terlatih," ujarnya.

Tips Sehat Saat Menonton TV

Meskipun hasil penelitian ini perlu ditindaklanjuti, para ahli sepakat bahwa bukan berarti kita harus menghentikan kebiasaan menonton TV sepenuhnya. Ada beberapa cara untuk membuat aktivitas menonton TV lebih ramah bagi kesehatan otak. Pertama, pilihlah tayangan yang dapat merangsang otak, seperti dokumenter, acara edukasi, atau serial dengan alur cerita yang kompleks.

Kedua, hindari menonton tanpa jeda, seperti marathon film. Luangkan waktu untuk berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan setiap beberapa saat. Dengan kata lain, menonton TV bisa menjadi hiburan yang menyenangkan untuk melepas penat, asalkan tidak dilakukan secara berlebihan dan tetap diimbangi dengan aktivitas fisik serta kegiatan yang menstimulasi pikiran agar kesehatan otak tetap terjaga.