BREAKING Minggu, 14 Jun 2026 04:05 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Selasa, 19 Mei 2026 10:14 WIB

Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Inflasi Diperkirakan Muncul Mei Ini

19 Mei 2026, 10:14 WIB 15x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
R
Rizky Ananta 15x dibaca · 2 menit baca
Dampak Pelemahan Rupiah Terhadap Inflasi Diperkirakan Muncul Mei Ini
Foto: Republika/Prayogi

Nilai tukar rupiah yang melemah diperkirakan akan mulai berdampak pada inflasi nasional pada bulan Mei 2026, dengan hasil perhitungan yang akan diumumkan pada awal bulan Juni. Tekanan inflasi ini terutama disebabkan oleh kenaikan biaya barang impor atau yang dikenal dengan istilah imported inflation, yang mulai merambah ke berbagai kategori pengeluaran.

Dampak Inflasi Terhadap Berbagai Sektor

Telisa Aulia Falianty, seorang Guru Besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, memperkirakan bahwa dampak dari imported inflation akan mulai terlihat pada data inflasi Mei, terutama pada kelompok barang yang memiliki kandungan impor yang tinggi. Ia menegaskan, “Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan di Mei. Kelompok pengeluaran yang paling terdampak adalah yang terkait dengan komponen tinggi impor.”

Telisa juga mengidentifikasi beberapa komoditas yang berpotensi terkena dampak, seperti obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, dan telekomunikasi. Ia menambahkan bahwa tekanan nilai tukar terhadap harga barang impor sudah mulai tercermin dalam indikator harga grosir.

Indikator Inflasi dan Saran Mitigasi

Tanda-tanda tekanan inflasi dari pelemahan rupiah telah terlihat melalui kenaikan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) dalam beberapa bulan terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa IHPB meningkat dari 106,00 pada Januari 2026 menjadi 109,07 pada April 2026, dengan pertumbuhan tahunan mencapai 3,81 persen.

Telisa menjelaskan, “Biasanya, Indeks Harga Perdagangan Besar akan memengaruhi inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen).” Sejak awal tahun, rupiah terus mengalami pelemahan, dengan depresiasi mencapai 5,99 persen secara year-to-date. Pada perdagangan terakhir, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.668 per dolar AS, turun dari Rp17.597 per dolar AS sebelumnya.

Telisa mengingatkan pentingnya pemerintah untuk mengambil langkah mitigasi agar dampak pelemahan rupiah tidak semakin memperburuk inflasi nasional. Langkah-langkah yang disarankan termasuk efisiensi biaya logistik untuk menekan kenaikan biaya produksi akibat imported inflation. Ia juga mendorong pelaku usaha untuk menjaga penyesuaian harga agar tetap wajar dan tidak membebani konsumen. Selain itu, diversifikasi penggunaan mata uang dalam transaksi internasional dianggap penting untuk mengurangi tekanan terhadap dolar AS. “Karena kalau rupiah stabil, imported inflation dapat dikendalikan,” ujar Telisa.