BREAKING Minggu, 14 Jun 2026 17:31 WIB
Berita Terkini Minggu, 14 Jun 2026 15:48 WIB

Dasco Berikan Apresiasi atas Inisiatif BI untuk Memperkuat Rupiah

14 Jun 2026, 15:48 WIB 2x dibaca 2 menit baca news.detik.com news.detik.com
H
Hana Salsabila Zaid 2x dibaca · 2 menit baca
Dasco Berikan Apresiasi atas Inisiatif BI untuk Memperkuat Rupiah
Foto: Anggi Muliawati/detikcom.

Jakarta - Wakil Ketua DPR RI, Profesor Sufmi Dasco Ahmad, mengungkapkan dukungannya terhadap langkah yang diambil oleh Bank Indonesia untuk memperkuat nilai tukar Rupiah. Langkah tersebut dilakukan melalui kerjasama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) yang ditandatangani antara Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dan Gubernur People's Bank of China (PBOC), Pan Gongsheng. Penandatanganan perjanjian ini berlangsung pada 11 Juni 2026 di Shanghai, China.

Perjanjian ini mencakup Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Transaksi Mata Uang Lokal (LCT) yang diperluas hingga mencakup wilayah Hong Kong. Selain itu, kesepakatan ini juga mencakup pembentukan Renminbi Clearing Arrangement di Indonesia, yang bertujuan untuk mendukung pengembangan ekosistem RMB domestik dengan menyediakan likuiditas Renminbi yang cukup untuk kegiatan perdagangan, investasi, dan aktivitas keuangan.

Manfaat Kesepakatan untuk Transaksi Internasional

Dasco menjelaskan bahwa kesepakatan ini memungkinkan transaksi antara Indonesia, China Daratan, dan Hong Kong dilakukan menggunakan Rupiah atau Renminbi, sehingga tidak perlu bergantung pada Dolar Amerika Serikat. "Kesepakatan itu membuat transaksi antara Indonesia, China Daratan dan Hong Kong bisa dilakukan dengan menggunakan Rupiah atau Renminbi tanpa harus menggantungkan pada Dolar Amerika Serikat," ungkapnya pada Minggu, 14 Juni 2026.

QRIS Lintas Negara untuk Mempermudah Transaksi

Lebih lanjut, Dasco juga menyampaikan bahwa sistem QRIS lintas batas antara Indonesia dan China telah disepakati, yang memungkinkan pengusaha dari kedua negara untuk melakukan transaksi menggunakan QRIS. Saat ini, sistem tersebut telah melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 di Indonesia, yang semuanya terhubung. Ia menambahkan bahwa perjanjian ini juga memungkinkan transaksi ekspor-impor antara kedua negara dilakukan dengan LCT Rupiah dan Renminbi, yang diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada Dolar AS.

"Dengan disepakati perjanjian antara Bank Indonesia dengan People's Bank of China, maka transaksi ekspor-impor Indonesia dengan China yang pada tahun 2025 mencapai US$ 154,5 miliar, setelah perjanjian tersebut ditandatangani, bisa menggunakan LCT, yaitu Rupiah dengan Renminbi tanpa bergantung lagi dengan Dolar Amerika Serikat," jelas Dasco.

Ia menegaskan bahwa ini merupakan upaya serius untuk mengurangi kebutuhan Dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan, termasuk penggunaan QRIS lintas negara antara Indonesia dan China. Langkah ini diambil oleh Bank Indonesia untuk memperkuat nilai Rupiah.