AGAM – Penyaluran bantuan sosial untuk korban bencana di Sumatera Barat masih terkendala oleh masalah data. Hingga awal Mei 2026, dari total alokasi bantuan yang ditujukan untuk Kabupaten Agam, hanya satu jenis bantuan yang sudah disalurkan, yaitu Jaminan Hidup. Sementara itu, bantuan untuk Isian Hunian dan Stimulan Ekonomi belum ada realisasinya sama sekali.
Menurut data yang dirangkum oleh PT Pos Indonesia dan Bank Mandiri per 2 April 2026, dari 16.152 keluarga penerima manfaat yang terdaftar di Agam, bantuan Jaminan Hidup baru berhasil disalurkan kepada 15 keluarga dengan total nilai mencapai Rp 45,5 juta. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kolom untuk Isian Hunian dan Stimulan Ekonomi masih kosong, sehingga total bantuan yang telah disalurkan di wilayah tersebut baru mencapai Rp 140,2 juta dari total yang seharusnya.
Konfirmasi dari Dinas Sosial
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, mengonfirmasi situasi ini saat dihubungi pada Rabu (6/5/2026). Ia menyatakan, "Untuk Kabupaten Agam, yang telah cair itu dari tiga bansos yang ada, baru satu, yaitu Bansos Jaminan Hidup." Ia menambahkan bahwa pencairan Bansos Jaminan Hidup untuk 8.195 jiwa telah dilakukan sejak 3 April 2026, dengan total dana lebih dari Rp 11 miliar.
Villa juga menjelaskan bahwa untuk Bansos Isian Hunian dan Stimulan Ekonomi yang diusulkan untuk 2.297 kepala keluarga, masih menunggu ketersediaan anggaran dari Kementerian Sosial. Jika semua bantuan tersebut dicairkan, totalnya diperkirakan sekitar Rp 18,3 miliar.
Masalah Data dan Permintaan Penyusunan Ulang
Villa menyoroti adanya risiko terkait data yang digunakan, yaitu data rumah yang rusak. Ia menjelaskan bahwa seringkali satu rumah yang rusak dihuni oleh tiga hingga empat kepala keluarga, tetapi hanya satu kepala keluarga pemilik rumah yang menerima bantuan. "Mohon Satgas bisa mengakomodir data susulan bersamaan dengan bantuan Isian Hunian, agar tidak menimbulkan konflik dan kecemburuan sosial di masyarakat," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, Syaifullah, menyatakan bahwa Kementerian Sosial meminta daerah, terutama Kabupaten Agam, untuk segera melengkapi dan menyusun kembali data yang diperlukan. “Data ini belum lengkap. Silakan bagi kabupaten/kota datanya disusun kembali dan diusulkan, nanti kita koordinasikan lewat Satgas,” ujarnya. Ia mengakui bahwa masalah data menjadi kendala utama dalam pencairan bantuan di Sumbar, dan menekankan pentingnya verifikasi dan validasi data agar penyaluran bantuan tepat sasaran.
Syaifullah juga menambahkan bahwa selain tiga jenis bantuan yang sudah disalurkan, terdapat dua jenis bantuan lain dari Kementerian Sosial, yaitu santunan bagi ahli waris korban meninggal dunia sebesar Rp 15 juta dan bantuan untuk korban luka berat sebesar Rp 5 juta. Proses pencairan untuk bantuan ini juga masih menunggu keabsahan data dari daerah.
Secara keseluruhan, realisasi bantuan di 11 kabupaten/kota di Sumatera Barat per awal April tercatat mencapai 45.709 kepala keluarga dari total alokasi 51.534 kepala keluarga, dengan total dana yang telah disalurkan mencapai Rp 26,68 miliar. Bantuan yang paling banyak disalurkan adalah Bantuan Stimulan Ekonomi dengan nilai Rp 14,24 miliar, diikuti oleh Isian Hunian sebesar Rp 8,54 miliar, dan Jaminan Hidup sebesar Rp 3,88 miliar.