BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:09 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Senin, 03 Agt 2026 14:25 WIB

Defisit Perdagangan Indonesia Berlanjut di Bulan Juni 2026

03 Agt 2026, 14:25 WIB 61x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
H
Hana Salsabila Zaid 61x dibaca · 2 menit baca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juni 2026 menunjukkan defisit sebesar 0,45 miliar dolar AS, melanjutkan tren defisit yang terjadi pada bulan Mei 2026. Dengan demikian, Indonesia mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut setelah mencatat surplus selama 72 bulan sejak Mei 2020 hingga April 2026. Defisit ini tercatat sebagai selisih antara nilai impor yang mencapai 25,91 miliar dolar AS dan nilai ekspor sebesar 25,46 miliar dolar AS.

Kenaikan Nilai Ekspor dan Impor

"Pada Juni 2026, nilai ekspor mencapai 25,46 miliar dolar AS atau naik sebesar 8,84 persen (yoy) dibandingkan Juni 2025. Nilai ekspor migas tercatat sebesar 1,07 miliar dolar AS atau turun 3,78 persen (yoy). Sementara itu, nilai ekspor nonmigas naik 9,46 persen (yoy) menjadi 24,39 miliar dolar AS pada Juni 2026," jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers yang berlangsung pada Senin (3/8/2026).

Ateng menambahkan bahwa kenaikan nilai ekspor pada bulan Juni 2026 terutama didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas dari sejumlah komoditas. Di antara komoditas tersebut, bahan bakar mineral (HS27) mengalami kenaikan nilai sebesar 49,67 persen dengan peningkatan volume sebesar 15,34 persen. Nikel dan barang daripadanya (HS75) juga meningkat 69,30 persen meskipun volumenya turun 12,14 persen. Selain itu, lemak dan minyak hewani/nabati (HS15) mencatat kenaikan nilai sebesar 10,45 persen, meskipun volumenya mengalami penurunan sebesar 7,09 persen.

Kontribusi Sektor Ekonomi

Berdasarkan sektor, pada bulan Juni 2026, sektor industri pengolahan berkontribusi terbesar terhadap ekspor nonmigas dengan nilai mencapai 20,88 miliar dolar AS. Sektor pertambangan dan sektor lainnya menyumbang 3,03 miliar dolar AS, sedangkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 0,49 miliar dolar AS.

Di sisi lain, total nilai impor pada bulan Juni 2026 mencapai 25,91 miliar dolar AS, meningkat 34,27 persen dibandingkan dengan Juni 2025. Nilai impor migas tercatat sebesar 4,56 miliar dolar AS atau meningkat 105,15 persen (yoy). Sementara itu, impor nonmigas senilai 21,35 miliar dolar AS mengalami kenaikan sebesar 25,05 persen secara tahunan," ungkap Ateng.

Ateng menjelaskan bahwa peningkatan nilai impor secara tahunan terutama disebabkan oleh kenaikan impor nonmigas yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan impor sebesar 22,17 persen. Semua golongan impor pada bulan Juni 2026 mengalami peningkatan secara tahunan. Nilai impor barang konsumsi meningkat 17,46 persen dibandingkan dengan Juni 2025. Di sisi lain, impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor meningkat 38,94 persen dengan kontribusi sebesar 26,94 persen. Nilai impor barang modal juga mengalami peningkatan sebesar 26,53 persen.