Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, sebuah penyakit yang dapat ditularkan melalui kontak dengan hewan pengerat, khususnya tikus. Salah satu langkah utama yang disarankan adalah menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya.
Waspada Terhadap Risiko Penularan
Andi Saguni, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, menyatakan bahwa hantavirus memiliki hubungan erat dengan hewan pengerat. Penularan dapat meningkat bagi individu yang sering beraktivitas di area yang memungkinkan kontak dengan tikus. Kelompok yang harus lebih waspada termasuk petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pekerja selokan, dan petugas laboratorium yang berurusan dengan hewan pembawa penyakit.
“Pekerjaan yang berkaitan dengan kontak tikus, petugas sampah, kemudian petani, dan lain sebagainya, juga dengan daerah yang tergenang banjir, juga aktivitas di area berisiko, ruang bawah tanah yang ada tikus, gedung lama, dan lain sebagainya,” ungkap Andi dalam konferensi pers mengenai kewaspadaan terhadap penyakit hantavirus.
Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan, seperti saat berkemah atau berada di lokasi yang berpotensi menjadi habitat tikus. “Dan juga tentunya bahwa di daerah-daerah kita harus waspada bahwa ketika kita berada di luar ruangan, berkemah contohnya, dan itu biasanya juga ada tikus di daerah situ,” tambahnya.
Delapan Cara Mencegah Penularan Hantavirus
Untuk mencegah penularan hantavirus, berikut adalah delapan langkah yang direkomendasikan oleh Kemenkes:
- Cuci tangan pakai sabun: Masyarakat disarankan untuk mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, terutama setelah batuk, bersin, dan beraktivitas di luar rumah.
- Hindari kontak langsung dengan tikus: Jangan menyentuh tikus atau celurut secara langsung, termasuk kotoran, urine, dan sekresinya. Gunakan alat pelindung diri jika harus membersihkan area yang terkontaminasi.
- Jaga kebersihan rumah dan tempat kerja: Kebersihan tempat tinggal dan tempat kerja perlu dijaga secara rutin. Jika ditemukan jejak tikus atau celurut, lakukan pembersihan dengan metode basah agar debu tidak beterbangan.
- Simpan makanan dan minuman dengan aman: Pastikan makanan dan minuman disimpan dalam wadah tertutup atau menggunakan tudung saji untuk menghindari kontaminasi oleh tikus.
- Tutup lubang di dalam dan luar rumah: Segera tutup semua lubang atau celah yang bisa menjadi akses masuk tikus ke dalam rumah untuk mengurangi risiko mereka bersarang.
- Hindari sumber infeksi saat berwisata: Saat melakukan aktivitas di alam terbuka, seperti berkemah atau mendaki, hindari kontak dengan sumber infeksi, termasuk area yang menunjukkan jejak tikus.
- Segera periksa jika mengalami gejala: Jika merasakan gejala yang mengarah pada penyakit hantavirus, seperti demam, nyeri badan, lemas, batuk, atau sesak napas setelah beraktivitas di area berisiko, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
- Patuhi imbauan kesehatan saat bepergian: Pelaku perjalanan diminta untuk mengikuti imbauan kesehatan di negara tujuan, terutama jika pergi ke wilayah yang melaporkan kasus hantavirus.
Andi juga mengingatkan pentingnya cara yang tepat dalam menangani bangkai tikus, terutama di daerah pertanian atau tempat dengan populasi tikus yang tinggi. “Banyak tikus yang terbunuh, yang mati, itu sebaiknya dilakukan juga prosedur yang baik. Tidak dibuang di tengah jalan, atau di sungai, atau dibiarkan begitu, ada baiknya tikus tersebut juga dimasukkan ke kubur, kemudian ditutup dengan rapat, itu pasti akan sangat aman,” tutupnya.