KOMPAS.com - Pabrikan kamera dan drone asal China, DJI, telah secara resmi meluncurkan mikrofon nirkabel terbarunya, DJI Mic Mini 2, di seluruh dunia. Peluncuran ini terjadi sebagai penerus dari Mic Mini generasi pertama yang dirilis pada November 2024. Mikrofon ini tetap mempertahankan desain ringkas dengan penekanan pada kualitas suara yang lebih jernih, daya tahan baterai yang lebih lama, serta kompatibilitas yang lebih luas dengan berbagai perangkat.
DJI Mic Mini 2 mendukung perekaman audio dengan kualitas 48kHz dan 24-bit omnidirectional, yang memungkinkan mikrofon ini menangkap suara dengan detail tinggi dari berbagai arah. Hal ini menjadikannya pilihan ideal untuk keperluan vlog, wawancara, hingga siaran langsung.
Desain dan Fitur Unggulan
Dari segi desain, perangkat ini tetap memiliki ukuran yang sangat kecil. Transmitter-nya hanya berbobot sekitar 11 gram, sementara receiver-nya sekitar 17,8 gram. Pada generasi ini, DJI menambahkan panel depan berwarna yang dapat dipasang secara magnetik, memberikan tampilan yang lebih stylish meskipun bobot perangkat meningkat sekitar 10 persen dibandingkan generasi sebelumnya.
Dalam hal audio, DJI Mic Mini 2 dilengkapi dengan beberapa fitur penting, antara lain:
- Automatic limiting: Mencegah suara “pecah” saat volume terlalu tinggi, seperti saat berteriak atau berada di lingkungan bising.
- Gain control (5 level): Memungkinkan pengguna mengatur sensitivitas mikrofon sesuai dengan kondisi suara, dari pelan hingga ramai.
- Dual-track recording: Mikrofon dapat merekam dua versi audio sekaligus, satu normal dan satu lebih rendah sebagai cadangan, untuk menghindari kehilangan suara saat terjadi distorsi.
Fitur-fitur ini dapat diakses melalui aplikasi DJI Mimo, yang juga menyediakan tiga preset suara: Regular, Rich, dan Bright, serta dua tingkat noise cancellation untuk penggunaan di dalam dan luar ruangan. Secara teknis, mikrofon ini memiliki rentang frekuensi dari 20Hz hingga 20kHz, mencakup seluruh spektrum suara manusia. Dengan fitur low cut aktif, frekuensi rendah seperti suara angin atau getaran dapat dikurangi untuk menghasilkan suara yang lebih bersih. Mic Mini 2 juga mampu menangani tekanan suara hingga 120dB, yang cukup untuk kondisi ekstrem seperti konser atau keramaian, dengan tingkat noise rendah di angka 24dBA.
Konektivitas dan Daya Tahan Baterai
DJI Mic Mini 2 juga mendukung OsmoAudio Direct Connection, yang memungkinkan hingga dua transmitter terhubung langsung ke perangkat DJI seperti Osmo Pocket 3, Osmo 360, Osmo Nano, atau Osmo Action 6 tanpa memerlukan receiver tambahan. Untuk konektivitas, perangkat ini mendukung Bluetooth 5.3 dan transmisi nirkabel 2.4 GHz dengan jangkauan hingga 400 meter dalam kondisi ideal.
Di sektor baterai, transmitter Mic Mini 2 dilengkapi kapasitas 114 mAh, yang memungkinkan mikrofon bertahan hingga 11,5 jam. Sementara itu, receiver memiliki baterai 170 mAh yang dapat bertahan sekitar 10,5 jam. Pengisian cepat didukung dan memakan waktu 100 menit untuk mencapai penuh, yang 20 persen lebih cepat dibandingkan pendahulunya. DJI juga mengklaim bahwa pengisian selama 5 menit dapat digunakan hingga satu jam. Dengan menggunakan charging case, total daya tahan perangkat Mic Mini 2 bisa mencapai hingga 48 jam.
Harga dan Paket Penjualan
DJI menawarkan beberapa paket penjualan, mulai dari satu transmitter hingga bundel lengkap dengan dua transmitter, receiver, dan charging case. Berikut adalah daftar harga DJI Mic Mini 2 di pasar Eropa:
- 1 Transmitter (TX): 35 euro (sekitar Rp 686.000)
- 1 TX + 1 Receiver (RX): 59 euro (sekitar Rp 1.156.000)
- 1 TX + 1 Mobile RX + case: 59 euro (sekitar Rp 1.156.000)
- 2 TX + 1 Mobile RX + case: 79 euro (sekitar Rp 1.547.000)
- 2 TX + 1 RX + case: 99 euro (sekitar Rp 1.939.000)
- Paket lengkap 2 TX + 1 RX + case + Mobile Receiver: 114 euro (sekitar Rp 2.233.000)
Aksesori tambahan seperti magnetic cover dijual seharga 19 euro (sekitar Rp 372.000), sedangkan Time Series cover dibanderol 39 euro (sekitar Rp 764.000). Perlu dicatat bahwa harga di Eropa umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara lain, termasuk Indonesia, yang disebabkan oleh pajak yang lebih tinggi dan faktor lain yang berlaku di Benua Biru.