Regional

Empat Kecamatan di Cirebon Ditetapkan Siaga Satu Akibat Lonjakan Kasus Campak

Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini dalam status siaga satu menyusul peningkatan kasus campak yang signifikan. Empat kecamatan ditetapkan dalam kondisi ini untuk menanggulangi penyebaran penyakit.

R
Reyhan Arifin
02 May 2026 4 pembaca
Empat Kecamatan di Cirebon Ditetapkan Siaga Satu Akibat Lonjakan Kasus Campak
Sumber gambar: regional.kompas.com

CIREBON, KOMPAS.com - Kabupaten Cirebon di Jawa Barat saat ini berada dalam status siaga satu akibat lonjakan kasus campak. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat melaporkan bahwa terdapat peningkatan kasus dalam beberapa pekan terakhir, sehingga empat kecamatan ditetapkan dalam kondisi siaga satu atau zona kejadian luar biasa (KLB). Keempat kecamatan tersebut adalah Mundu, Sumber, Ciwaringin, dan Greged. Keputusan ini diambil sebagai upaya cepat untuk menekan penyebaran penyakit menular ini.

Peningkatan Kasus Campak di Empat Kecamatan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, menjelaskan bahwa meskipun status KLB belum diterapkan secara keseluruhan di kabupaten, penanganan serius difokuskan pada daerah dengan lonjakan kasus tertinggi. Penetapan status siaga satu dilakukan karena tingginya jumlah kasus campak yang terdeteksi di wilayah tersebut. Berdasarkan data hingga minggu ke-15 tahun 2026, jumlah kasus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Rincian kasus di masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut: Kecamatan Greged mencatat 33 kasus suspek dengan 7 kasus terkonfirmasi positif, Kecamatan Ciwaringin juga mencatat 33 kasus suspek dengan 9 kasus positif, Kecamatan Mundu mencatat 29 kasus suspek dengan 2 kasus positif, dan Kecamatan Sumber mencatat 24 kasus suspek dengan 5 kasus positif. Namun, hingga saat ini, belum ada laporan kematian akibat campak di wilayah Kabupaten Cirebon.

Langkah Penanganan dan Vaksinasi Massal

Dinkes Kabupaten Cirebon telah mengambil sejumlah langkah strategis untuk mengendalikan penyebaran campak. Salah satu langkah tersebut adalah pelaksanaan vaksinasi massal melalui program catch up campaign (CUC), yang menyasar anak-anak berusia 9 hingga 59 bulan yang belum mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Hasilnya, capaian vaksinasi melalui CUC telah mencapai 95 persen, angka yang dianggap cukup untuk memperkuat kekebalan kelompok (herd immunity).

Selain itu, Dinkes juga menyiapkan program lanjutan berupa Outbreak Response Immunization (ORI) yang akan menjangkau kelompok usia lebih luas. “Kami ingin memastikan seluruh anak mendapatkan perlindungan optimal. ORI ini menjadi langkah lanjutan agar penularan bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujar Eni. Program ORI akan menyasar anak berusia 9 bulan hingga 13 tahun, termasuk di wilayah yang belum teridentifikasi sebagai zona KLB sebagai langkah antisipasi.

Capaian imunisasi campak-rubella (MR) di Kabupaten Cirebon dalam lima tahun terakhir masih berada di bawah angka ideal, yakni rata-rata kurang dari 80 persen. Kondisi ini meningkatkan risiko penyebaran campak, terutama di daerah dengan mobilitas masyarakat yang tinggi. Dengan adanya vaksinasi massal, diharapkan akan terbentuk kekebalan kelompok yang dapat menekan penularan virus secara signifikan.

Dinkes mengimbau masyarakat, terutama orang tua, untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang telah ditentukan. Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah meluasnya wabah campak. “Dengan langkah vaksinasi masif dan pengawasan ketat, kami berharap penyebaran campak di Kabupaten Cirebon dapat segera dikendalikan dan tidak berkembang menjadi KLB yang lebih luas,” jelas Eni.

Artikel Terkait