Ketika cuaca panas, banyak orang merasa perlu menggunakan deodoran lebih sering untuk menjaga kepercayaan diri. Namun, hal ini tidak berlaku bagi orang Korea dan sebagian besar penduduk Asia Timur. Diskusi mengenai minimnya bau badan pada orang Korea ternyata didasarkan pada faktor genetik yang signifikan.
Mutasi Gen ABCC11 dan Dampaknya
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa antara 80 hingga 95 persen orang Asia Timur mengalami mutasi pada gen ABCC11, yang berhubungan dengan produksi bau badan. Ini berarti bahwa tubuh mereka tidak mengeluarkan aroma asam yang biasanya muncul saat berkeringat dalam cuaca panas. Sebuah studi dari University of Bristol menyebutkan bahwa hanya 0,006 persen populasi Korea yang memiliki gen ABCC11 dalam bentuk normal, menjadikannya salah satu angka terendah di dunia.
"Gen ABCC11 pada dasarnya merupakan satu-satunya penentu apakah Anda menghasilkan bau ketiak atau tidak," jelas Ian Day, seorang epidemiolog genetika dari University of Bristol. Ia menambahkan bahwa hanya sekitar 2 persen orang Eropa yang tidak memiliki gen ini, sedangkan sebagian besar orang di Asia Timur dan hampir semua orang Korea tidak memilikinya.
Proses Biologis di Balik Bau Badan
Dokter kulit dari Oregon, Madalyn Nguyen, menjelaskan bahwa bau badan terutama berasal dari kelenjar keringat apokrin yang terletak di ketiak dan area selangkangan. Pada individu yang tidak memiliki mutasi ABCC11, protein di kelenjar ini berfungsi untuk memindahkan lipid atau lemak ke dalam keringat. Bakteri yang ada di permukaan kulit kemudian memecah lipid tersebut, menghasilkan aroma khas. Namun, pada mereka yang memiliki mutasi ABCC11, protein tersebut tidak berfungsi dengan cara yang sama.
"Transporter itu tidak berfungsi. Dan kami tidak memiliki lipid yang sama yang masuk ke dalam kotoran telinga dan keringat," ungkap Nguyen. Ia juga menambahkan bahwa mutasi ini membuat kotoran telinga menjadi lebih kering dan tidak lengket, sehingga semakin sedikit lipid yang dikeluarkan, semakin kecil kemungkinan munculnya bau badan.
Sampai saat ini, belum ada penjelasan yang jelas mengenai mengapa mutasi ini begitu umum di Asia Timur, khususnya di kalangan orang Korea yang memiliki prevalensi tertinggi. Nguyen berpendapat bahwa faktor geografis mungkin memiliki pengaruh, contohnya, manusia yang tinggal di iklim dingin cenderung memiliki kulit lebih terang, sementara mereka yang berada dekat khatulistiwa memiliki lebih banyak melanin untuk melindungi kulit mereka.
Pentingnya Menjaga Kebersihan
Meskipun mutasi ABCC11 dapat mengurangi kemungkinan bau badan, Nguyen menekankan bahwa hal ini tidak berarti seseorang tidak perlu mandi. "Karena mereka masih mengeluarkan zat dari kelenjar apokrin. Kelenjar keringat ini sebagian diaktifkan oleh senyawa yang disebut katekolamin, yang dikeluarkan saat stres," jelasnya.
Dari perspektif dermatologi, bau badan bukanlah indikator kesehatan yang buruk. Namun, bagi mereka yang ingin mengurangi aroma ketiak, Nguyen merekomendasikan penggunaan sabun berbahan benzoil peroksida. Ia juga tidak menyarankan penggunaan deodoran karena hanya menambahkan aroma parfum pada tubuh.
"Kuncinya adalah membiarkannya selama satu atau dua menit sebelum membilasnya. Dan itu akan mengurangi bakteri permukaan yang memecah lipid dalam keringat Anda," tutup Nguyen. Selain itu, mengoleskan antiperspiran pada ketiak yang kering di malam hari juga dapat membantu, karena antiperspiran dapat diserap oleh kelenjar keringat.
Dengan demikian, alasan mengapa orang Korea jarang mengalami bau badan ternyata sangat terkait dengan faktor genetik, khususnya mutasi pada gen ABCC11. Bagi mereka yang tidak memiliki mutasi tersebut, menjaga kebersihan tubuh tetap menjadi hal yang penting untuk dilakukan.