BREAKING Senin, 15 Jun 2026 20:08 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Rabu, 20 Mei 2026 10:25 WIB

Helm Khusus untuk Bayi: Kebutuhan Medis atau Sekadar Tren?

20 Mei 2026, 10:25 WIB 17x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
S
Shinta Islamadina 17x dibaca · 3 menit baca
Helm Khusus untuk Bayi: Kebutuhan Medis atau Sekadar Tren?
Ilustrasi. Penggunaan helm khusus pada bayi biasanya berkaitan dengan masalah bentuk kepala bayi yang tidak simetris. (Instagram/sadiemarielewis)

Di Jakarta, penggunaan helm khusus pada bayi seringkali memicu perdebatan di kalangan orang tua. Beberapa dari mereka bertanya-tanya apakah helm ini benar-benar diperlukan atau hanya sekadar tren. Praktik ini dikenal dengan istilah helmet therapy atau cranial orthosis, yang biasanya digunakan untuk bayi yang mengalami kondisi kepala datar, seperti plagiocephaly atau brachycephaly. Kondisi ini cukup umum terjadi, terutama pada bayi yang sering berbaring dengan posisi kepala yang sama.

Pengenalan Helmet Therapy

Helmet therapy adalah metode yang melibatkan penggunaan helm khusus yang dirancang untuk membantu membentuk ulang kepala bayi yang mengalami asimetri atau flat head syndrome. Helm ini berfungsi dengan memberikan ruang pada bagian kepala yang datar, serta mengarahkan pertumbuhan ke area yang masih perlu berkembang. Terapi ini umumnya dipertimbangkan untuk bayi yang berusia di bawah satu tahun, ketika tulang tengkorak masih lunak dan mudah dibentuk.

Banyak orang tua merasa khawatir ketika melihat bentuk kepala bayi mereka tidak simetris. Namun, dalam banyak kasus, kondisi ini dapat membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan bayi. Sebagian besar kasus plagiocephaly ringan dapat membaik tanpa memerlukan helm, terutama dengan cara-cara sederhana seperti mengubah posisi tidur, meningkatkan waktu perut, dan melakukan fisioterapi jika diperlukan. Hal ini menunjukkan bahwa helmet therapy bukanlah pilihan pertama untuk semua bayi.

Kapan Helmet Therapy Diperlukan?

Helmet therapy biasanya direkomendasikan pada kasus yang sedang hingga berat, atau ketika perbaikan alami dianggap tidak mungkin. Sebuah tinjauan sistematis yang dipublikasikan dalam jurnal Child's Nervous System menyatakan bahwa helmet therapy dapat efektif, terutama untuk bayi dengan deformitas yang lebih jelas. Keputusan untuk menggunakan terapi ini harus mempertimbangkan usia bayi, tingkat keparahan kondisi, dan kemungkinan perbaikan tanpa intervensi.

Meskipun banyak penelitian menunjukkan manfaat dari helmet therapy, para ahli mengingatkan bahwa hasilnya tidak selalu konsisten. Perbedaan dalam metode pengukuran dan definisi kondisi membuat perbandingan hasil antarpenelitian menjadi sulit. Dengan kata lain, meskipun terapi ini dapat membantu, tidak ada jaminan bahwa hasilnya akan sama untuk setiap kasus.

Salah satu faktor penting dalam helmet therapy adalah waktu. Manfaat terapi cenderung lebih besar jika dimulai lebih awal, saat pertumbuhan tengkorak masih berlangsung cepat. Setelah bayi mencapai usia sekitar 10 bulan, efektivitas terapi ini bisa menurun karena pertumbuhan kepala mulai melambat. Oleh karena itu, evaluasi dini oleh tenaga kesehatan menjadi sangat penting untuk menentukan langkah terbaik.

Walaupun sering dianggap hanya berkaitan dengan bentuk kepala, plagiocephaly juga bisa terkait dengan kondisi lain seperti tortikolis (kekakuan otot leher) atau keterlambatan perkembangan. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh dokter sangat diperlukan untuk memastikan bahwa kondisi ini bukan merupakan gangguan lain yang lebih serius seperti craniosynostosis.

Helmet therapy dapat menjadi solusi pada kondisi tertentu, terutama untuk kasus yang sedang hingga berat. Keputusan untuk menggunakan helm seharusnya didasarkan pada kebutuhan medis masing-masing bayi, yang sebaiknya dibahas bersama tenaga kesehatan. Dalam banyak kasus, pertumbuhan alami bayi sudah cukup untuk memperbaiki bentuk kepala tanpa memerlukan intervensi khusus.