Seorang ibu hamil bernama Nabila Qadrianty menjadi sorotan publik setelah berkompetisi dalam acara kebugaran Hyrox saat kehamilannya memasuki usia 24 minggu. Acara ini ramai diperbincangkan di media sosial karena Hyrox merupakan kompetisi yang menggabungkan lari dengan berbagai tantangan yang menguji kekuatan dan daya tahan fisik.
Nabila berkompetisi di Hyrox Osaka pada 30 Januari 2026 dalam kategori Women's Open (usia 35-39 tahun). Ia berhasil menyelesaikan perlombaan dalam waktu 2 jam 21 menit 37 detik, menempati peringkat ke-599 secara keseluruhan dan posisi ke-96 di kelompok usianya. Pencapaian ini juga dicatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan nomor rekor 12753 pada 16 Juli 2026 sebagai wanita hamil pertama yang mengikuti kompetisi Hyrox pada usia kehamilan 24 minggu.
Keamanan Olahraga Selama Kehamilan
Namun, muncul pertanyaan mengenai keamanan melakukan olahraga dengan intensitas tinggi seperti Hyrox selama kehamilan. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Brawijaya Hospital, Niken P. Pangastuti, menjelaskan bahwa ibu hamil sebaiknya tetap aktif bergerak. Aktivitas fisik dengan intensitas ringan hingga sedang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan ibu dan janin.
Meski demikian, Niken menekankan bahwa tidak semua ibu hamil dapat langsung melakukan olahraga berat seperti Hyrox. Ia menjelaskan bahwa setiap kehamilan memiliki kondisi yang berbeda, sehingga tidak bisa disamaratakan. "Tapi ya kembali lagi, tiap orang nggak bisa kita samakan. Mungkin dia memang stamina tubuhnya sebegitu kuatnya," ungkapnya.
Pentingnya Konsultasi dengan Dokter
Niken menambahkan bahwa selama ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan kehamilan dan kondisi janin serta dirinya dalam keadaan baik, aktivitas fisik masih bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan tubuh. "Selama dia rajin memeriksakan diri dan memantau perkembangannya baik-baik saja, tidak ada masalah dengan kondisi kehamilannya, rasanya sih kalau badannya masih bisa menoleransi, masih fine," tambahnya.
Dalam kasus Nabila, kemungkinan besar ia sudah terbiasa dengan latihan fisik intens sebelum hamil, sehingga tubuhnya telah beradaptasi dengan beban latihan yang tinggi. Niken mengingatkan agar masyarakat tidak langsung meniru apa yang dilakukan oleh atlet atau individu lain hanya karena terlihat mampu. "Sebenarnya sih, saya tidak pernah menyarankan. Apalagi yang tadinya nggak Hyrox, hamil tiba-tiba Hyrox. Cuman kalau yang sebelumnya udah, mungkin setting-an metabolisme dia sudah cukup tinggi," jelasnya.
Ia juga memperingatkan bahwa olahraga berat selama kehamilan tetap memiliki risiko, terutama jika dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu dan janin. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya kemungkinan persalinan prematur. Kelelahan yang berlebihan dapat memicu pelepasan hormon tertentu yang berpotensi menyebabkan kontraksi. "Oleh karena itu, ibu hamil yang ingin tetap berolahraga disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan jenis dan intensitas latihan sesuai dengan kondisi kehamilannya," tutup Niken.