Belakangan ini, menu makanan yang dikonsumsi oleh Erling Haaland, penyerang Manchester City, menjadi topik hangat di media sosial. Hal ini bukan hanya disebabkan oleh porsi makannya yang besar, tetapi juga karena warganet mulai bercanda bahwa menu tersebut bisa dijadikan inspirasi untuk makanan pendamping ASI (MPASI).
Salah satu pengguna di platform Threads berkomentar, "Mamanya Haaland gamau bagi-bagi tips MPASI sama makannya kah? Ni bocah dimakanin apa pas kecil." Komentar lain yang sejalan menyatakan, "Ibu-ibu MPASI saat ini, 'Makan yang bener biar kaya Haaland', 'Minum susu biar kaya Haaland', 'Ayo rajin olahraga jangan males biar kaya Haaland'."
Pentingnya Memahami Kebutuhan Gizi
Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, menegaskan bahwa kebutuhan gizi seorang atlet profesional sangat berbeda dengan kebutuhan bayi atau orang dewasa pada umumnya. Ia menjelaskan bahwa pola makan Haaland umumnya mengandung protein tinggi, karbohidrat, dan lemak sehat.
Johanes menyampaikan, "Meski terlihat bergizi, komposisi ini disusun berdasarkan kebutuhan fisiologis seorang atlet, bukan bayi yang baru mulai mengenal makanan pendamping." Ia menambahkan bahwa MPASI adalah makanan pendamping ASI yang diberikan kepada bayi berusia enam bulan ke atas untuk memenuhi kebutuhan gizi yang tidak dapat dipenuhi hanya dari ASI atau susu formula.
Proses Pemberian MPASI yang Tepat
Karena sistem pencernaan bayi masih dalam tahap perkembangan, pemberian MPASI harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan usia dan kemampuan bayi dalam mengolah makanan. Tahapan tersebut meliputi:
- Usia 6-8 bulan: makanan bertekstur lumat seperti puree atau bubur kental.
- Usia 9-11 bulan: makanan cincang halus, cincang kasar, atau finger food.
- Usia 12-23 bulan: bayi mulai mengonsumsi makanan keluarga dengan potongan yang sesuai.
Dikarenakan kebutuhan yang berbeda, bayi tidak memerlukan makanan dengan kalori yang sangat tinggi seperti yang dikonsumsi oleh Haaland. Johanes juga memperingatkan bahwa memberikan asupan kalori dan protein secara berlebihan kepada bayi bukanlah pilihan yang bijak.
"Asupan kalori dan protein berlebihan pada bayi tidak baik karena risiko overweight dan obesitas meningkat dengan tingginya asupan protein hewani dan protein total," ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa asupan protein berlebih dapat membuat ginjal bekerja lebih keras dalam menyaring sisa metabolisme.
Lebih lanjut, konsumsi protein yang terlalu tinggi dapat mengganggu keseimbangan asupan zat gizi lain. "Dapat terjadi gangguan nutrisi karena makan banyak protein menyebabkan asupan zat gizi lainnya yang penting untuk pertumbuhan otak dan energi seperti lemak sehat, zat besi, dan karbohidrat berkurang," jelas Johanes.
Meskipun tidak menganjurkan masyarakat untuk mengikuti menu Haaland secara keseluruhan, Johanes menekankan bahwa ada beberapa prinsip pola makan dari sang pesepakbola yang bisa dijadikan inspirasi. Prinsip tersebut mencakup memilih makanan alami atau whole foods, memenuhi kebutuhan protein sesuai aktivitas fisik, rutin mengonsumsi buah dan sayur, tidur yang cukup, serta menyeimbangkan asupan energi dengan aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, meskipun banyak candaan mengenai 'MPASI ala Haaland' yang beredar di media sosial, orang tua sebaiknya tetap mengikuti rekomendasi pemberian MPASI yang sesuai dengan usia, kebutuhan gizi, dan kemampuan pencernaan bayi.