PALOPO, KOMPAS.com - Ahmad (62), seorang imam masjid di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, mengaku telah menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok warga setelah menegur anak-anak yang bermain di dalam masjid. Insiden ini menyebabkan Ahmad mengalami cedera parah di bagian kepala dan wajah. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 15.30 Wita, setelah Ahmad selesai melaksanakan shalat berjamaah.
“Setelah saya turun dari masjid dan sampai di rumah, sudah ada ibu-ibu yang menunggu. Mereka marah-marah dan mengancam akan melaporkan saya ke polisi,” ungkap Ahmad saat ditemui di kediamannya pada Senin (4/5/2026) sore. Ahmad berusaha tetap tenang dan mempersilakan pihak yang merasa dirugikan untuk menempuh jalur hukum. Namun, setelah menyampaikan hal tersebut, ia tiba-tiba diserang oleh warga.
Serangan Mendadak
Ahmad menjelaskan bahwa pukulan pertama mengenai bagian kepala di belakang telinga, yang membuatnya terjatuh. Dalam keadaan terbaring, ia dikerumuni dan kembali dipukuli oleh beberapa orang. “Ada sekitar tiga laki-laki dan juga ibu dari anak itu. Mereka terus memukul, bahkan ada yang menggunakan benda keras seperti potongan batu bata,” ujarnya. Akibat pengeroyokan ini, Ahmad mengalami luka di beberapa bagian kepala, hidung, pelipis, serta lebam di bagian mata. “Bagian muka saya sampai sekarang masih hitam. Waktu saya terbaring juga sempat diinjak-injak. Sampai sekarang masih terasa nyeri,” tuturnya.
Kondisi Kesehatan yang Memburuk
Ahmad mengaku kesulitan untuk berjalan dan harus dibantu oleh keluarganya. “Saya sekarang kalau berjalan harus dipapah anak. Sudah dua hari ini tidak ke masjid karena kondisi menurun,” tambahnya. Ia juga mengalami gangguan penglihatan pada mata kanannya, yang kini menjadi kabur setelah insiden tersebut. “Kalau mata kanan saya ditutup sebelah, saya tidak bisa melihat jelas wajah orang. Hanya terlihat ada orang, tapi tidak jelas,” jelasnya. Ahmad menjelaskan bahwa sebelumnya mata kanannya pernah menjalani operasi, namun kondisi tersebut kini memburuk akibat benturan saat pengeroyokan. “Dokter bilang ini seperti luka di atas luka. Kemungkinannya 50-50, bisa sembuh atau bisa tetap seperti ini,” terangnya.
Insiden ini bermula ketika sejumlah anak bermain di dalam masjid sebelum waktu shalat. Aktivitas mereka dinilai mengganggu karena menggunakan pengeras suara dan melakukan berbagai aksi di dalam area ibadah. “Ada yang naik sepeda di teras, ada yang salto di dalam, bahkan ada yang naik mimbar dan berteriak pakai mic,” ungkapnya. Ahmad sempat menegur anak-anak tersebut dengan mengetuk kepala mereka sebagai bentuk teguran. “Saya hanya ketuk kepalanya satu kali. Saya juga suruh mereka pulang kalau tidak mau shalat,” ujarnya. Namun, salah satu anak kemudian melaporkan kejadian itu kepada orang tuanya.
Ahmad menyesalkan tindakan balasan yang dianggap berlebihan. Setelah sempat berdiri, para pelaku langsung melarikan diri dari lokasi. Pada malam harinya sekitar pukul 23.00 Wita, Ahmad mengaku situasi kembali memanas dengan sekelompok orang datang menggunakan sepeda motor dan berteriak-teriak di sekitar lorong tempat tinggalnya. “Mereka mencari orang yang katanya memukul temannya saat kejadian. Mungkin ada yang kena saat saya menangkis,” paparnya.
Kasi Humas Polres Palopo, AKP Marsuki, mengonfirmasi bahwa peristiwa tersebut kini sedang diproses oleh pihak kepolisian. “Kasus ini sedang ditangani oleh pihak kepolisian. Untuk dugaan penganiayaan terhadap imam masjid ditangani oleh Polsek Wara, sementara laporan terkait dugaan penganiayaan terhadap anak ditangani oleh Unit PPA Polres Palopo. Jadi, ini sifatnya saling melapor,” kata Marsuki.
Ahmad berharap agar kasus yang dialaminya dapat diproses secara adil oleh pihak kepolisian, serta menjadi pembelajaran agar konflik serupa tidak terulang di tengah masyarakat.