BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 06:09 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Rabu, 12 Agt 2026 21:31 WIB

Indonesia dan China Bahas Penguatan Kerja Sama Teknologi dan Industri

12 Agt 2026, 21:31 WIB 52x dibaca 3 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
B
Bagas Prakoso 52x dibaca · 3 menit baca
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

Indonesia berkomitmen untuk memperluas kerja sama ekonomi dengan China, tidak hanya dalam aspek perdagangan dan investasi, tetapi juga dalam penguasaan teknologi dan peningkatan kapasitas industri nasional. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan bilateral antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dan Menteri Perdagangan China, Wang Wentao, yang berlangsung di Shanghai pada pertengahan Juli.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga didampingi oleh James Karnadi, Senior Advisor on Global Technology Cooperation di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Umum Anak Muda Amankan Nusantara (AMAN). Pertemuan ini diadakan bersamaan dengan World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026.

Diskusi Mengenai Kerja Sama dan Rantai Pasok

Agenda pertemuan mencakup pembahasan mengenai penguatan hubungan perdagangan dan investasi, kerja sama di sektor industri, ekonomi digital, serta pengembangan rantai pasok antara Indonesia dan China. Kedua belah pihak juga membahas perkembangan program Two Countries, Twin Parks, yang bertujuan untuk memperkuat konektivitas antara kawasan industri di Indonesia dan pusat produksi serta teknologi di China.

James menyatakan bahwa kerja sama investasi harus memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian domestik, terutama dalam hal transfer teknologi, pengembangan talenta, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kapasitas industri. "Indonesia menyambut kemitraan yang terbuka dan saling menguntungkan. Namun, setiap investasi strategis juga harus memperkuat kemampuan produksi, penguasaan teknologi, dan kualitas sumber daya manusia Indonesia," ujarnya.

Strategi Diplomasi Ekonomi

Menurut James, arah diplomasi ekonomi pemerintah perlu diwujudkan dalam bentuk kerja sama yang menghasilkan manfaat konkret bagi perekonomian nasional. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan dunia usaha, generasi muda, dan diaspora Indonesia dalam menindaklanjuti kesepakatan tingkat tinggi menjadi proyek bisnis dan investasi yang produktif.

"Diplomasi ekonomi tidak berhenti di meja pertemuan. Keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan kita menerjemahkan kesepakatan politik menjadi proyek nyata, kesempatan kerja, akses pasar, dan peningkatan kemampuan industri nasional," tegasnya.

China merupakan salah satu mitra ekonomi utama Indonesia. Pada tahun 2025, diperkirakan nilai perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai sekitar 167,48 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 16,7 persen. Jika digabungkan dengan Hong Kong, total investasi dari China dan Hong Kong di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 18 miliar dolar AS.

Selain membahas perdagangan dan investasi, pertemuan ini juga menyentuh kerja sama di bidang ekonomi digital, rantai pasok, serta pengembangan kawasan industri. Kedua pihak melakukan evaluasi terhadap implementasi nota kesepahaman investasi senilai sekitar 2,5 miliar dolar AS, termasuk peluang penguatan kawasan industri di Batam.

Di tengah persaingan teknologi global, James menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk tetap membuka ruang kerja sama dengan berbagai negara, sambil memastikan bahwa kepentingan nasional tetap menjadi prioritas dalam setiap kemitraan. "Posisi kita harus jelas: terbuka terhadap kolaborasi, tetapi tetap berdaulat atas teknologi, data, sumber daya, dan masa depan industri nasional," pungkasnya.