BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 08:11 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Kamis, 09 Jul 2026 00:05 WIB

--- Indonesia Siap Kembangkan Vaksin mRNA Pertama untuk Demam Berdarah ---

09 Jul 2026, 00:05 WIB 94x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
D
Doni Setiawan 94x dibaca · 3 menit baca
Ilustrasi. BPOM mengungkap, saat ini Indonesia sedang mengembangkan vaksin mRNA untuk DBD. Meski masih pada tahap uji praklinis, hasil awal cukup menjanjikan. (iStock/Reptile8488)
Ilustrasi. BPOM mengungkap, saat ini Indonesia sedang mengembangkan vaksin mRNA untuk DBD. Meski masih pada tahap uji praklinis, hasil awal cukup menjanjikan. (iStock/Reptile8488)
---TITLEEXCERPT--- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan bahwa Indonesia sedang dalam proses pengembangan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD), yang jika berhasil, akan menjadi yang pertama di dunia. ---CONTENT---

Jakarta, CNN Indonesia -- BPOM menginformasikan bahwa saat ini Indonesia tengah mengembangkan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD). Jika vaksin ini mendapatkan persetujuan, maka akan menjadi vaksin pertama di dunia untuk penyakit tersebut. BPOM menyatakan dukungannya terhadap pengembangan vaksin ini dan berharap dapat segera memasuki tahap uji klinis agar dapat digunakan oleh masyarakat.

Langkah Bersejarah dalam Penelitian Vaksin

Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, menekankan bahwa pengembangan vaksin ini bukan sekadar proyek ilmiah biasa. Ini adalah langkah bersejarah yang dapat mengangkat nama Indonesia dalam dunia riset global. "Dalam hal pengembangan vaksin, BPOM punya tekad untuk secara maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan karena ini kita akan buat sejarah, mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," ungkap Taruna dalam konferensi pers yang diadakan pada Rabu (8/7).

Taruna menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada terapi spesifik untuk mengatasi DBD. Penanganan pasien masih berfokus pada pengendalian gejala, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta mencegah komplikasi yang mungkin terjadi akibat dehidrasi atau syok dengue.

Pentingnya Pengalaman dalam Penanganan DBD

Taruna juga membagikan pengalamannya selama menempuh pendidikan spesialis di University of California, Irvine, di mana ia menangani seorang pasien yang terinfeksi dengue setelah kembali dari Asia Tenggara. Banyak rekan sejawatnya di lingkungan medis saat itu yang belum memiliki pengalaman menghadapi penyakit ini. Namun, pengalaman Taruna di Indonesia, termasuk saat bertugas di puskesmas, membantunya dalam menangani kasus tersebut dengan lebih baik.

Ia menyatakan bahwa ia sudah terbiasa menangani pasien demam berdarah dan menerapkan pendekatan perawatan yang tepat, sehingga pasien tersebut dapat pulih. Menurut Taruna, pengalaman ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dalam penelitian dengue, di mana tingginya jumlah kasus memberikan pengalaman klinis yang sangat berharga bagi tenaga kesehatan dan peneliti untuk mendorong inovasi vaksin.

“Kalau ini bisa berhasil, bukan hanya Tsinghua University dan Universitas Indonesia, tapi juga seluruh dunia akan berdampak,” jelasnya. Meskipun prototipe vaksin mRNA dengue telah diperkenalkan, Taruna menegaskan bahwa tahap ini masih merupakan langkah awal. Vaksin tersebut harus melalui serangkaian pengujian, terutama uji klinis, sebelum dapat digunakan secara luas.

BPOM sebagai regulator memastikan bahwa setiap vaksin yang beredar harus memenuhi tiga syarat utama: aman, efektif, dan diproduksi dengan standar mutu yang baik. Namun, BPOM juga tidak ingin regulasi menjadi penghalang bagi inovasi. "Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," tegas Taruna.

Sementara itu, pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, mengungkapkan bahwa vaksin DBD saat ini masih berada pada tahap uji praklinis. Meskipun demikian, hasil awal menunjukkan respons imun yang menjanjikan. "Kita memang baru tahap pre-clinical trial, tetapi dari hasil uji praklinis yang kita lakukan ternyata titer antibodi untuk menetralisasi strain DBD di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial lain yang sudah ada di Indonesia," ujarnya.

Beti berharap dalam enam bulan ke depan, penelitian dapat dilanjutkan ke pengujian efikasi pada subjek di Indonesia. Jika semua tahapan berjalan dengan baik, vaksin ini berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk pencegahan DBD.