BREAKING Sabtu, 15 Agt 2026 07:08 WIB
Home / Ekonomi / Detail
Ekonomi Selasa, 04 Agt 2026 20:39 WIB

Industri Manufaktur Indonesia Kembali Tumbuh, Namun Pemulihan Masih Rentan

04 Agt 2026, 20:39 WIB 58x dibaca 2 menit baca ekonomi.republika.co.id ekonomi.republika.co.id
B
Bima Mandala Sakti 58x dibaca · 2 menit baca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Aktivitas sektor manufaktur di Indonesia mengalami peningkatan kembali ke fase ekspansi pada bulan Juli 2026, setelah Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik menjadi 50,2 dari sebelumnya 46,9 pada bulan Juni. Meskipun angka ini menunjukkan perbaikan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan bahwa pemulihan dalam sektor ini masih memerlukan penguatan lebih lanjut.

Kenaikan PMI Menjadi Tanda Positif

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, menyatakan bahwa kenaikan PMI mencerminkan bahwa aktivitas manufaktur mulai pulih setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa pencapaian dalam satu bulan tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa industri nasional telah memasuki fase pemulihan yang berkelanjutan. "Kenaikan PMI ke 50,2 menunjukkan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah terkontraksi pada Juni. Namun, karena PMI merupakan indikator jangka pendek, capaian satu bulan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa industri telah memasuki tren pemulihan yang kuat," ungkapnya.

Tantangan yang Masih Dihadapi Sektor Manufaktur

Saleh menambahkan bahwa pemulihan sektor manufaktur perlu didukung oleh pertumbuhan yang konsisten dalam beberapa bulan mendatang, serta indikator lain seperti peningkatan output industri, pemanfaatan kapasitas produksi, dan investasi. Meskipun posisi Indonesia dalam konteks negara-negara ASEAN menunjukkan perbaikan, laju ekspansi yang terjadi masih tergolong moderat.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan PMI pada bulan Juli didorong oleh peningkatan produksi dan perbaikan permintaan domestik, yang menyebabkan bertambahnya pesanan baru. Namun, sektor industri masih harus menghadapi sejumlah tantangan, termasuk kenaikan biaya bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, serta sikap pelaku usaha yang masih berhati-hati dalam melakukan pembelian bahan baku. "Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan belum merata dan masih memerlukan penguatan dari sisi permintaan," ujarnya.

Oleh karena itu, Saleh menilai bahwa belum tepat jika kenaikan PMI pada bulan Juli langsung diartikan sebagai sinyal bahwa dunia usaha kembali agresif dalam melakukan investasi atau memperluas kapasitas produksi. "Pelaku usaha diperkirakan masih akan mencermati keberlanjutan tren permintaan dalam beberapa bulan ke depan sebelum melakukan ekspansi kapasitas atau investasi baru," jelasnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai bahwa kenaikan PMI manufaktur merupakan sinyal positif bagi aktivitas industri. Namun, ia juga mencatat bahwa pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena berbagai risiko eksternal yang masih mengancam perekonomian global. "Sikap hati-hati juga masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB kuartal kedua," tambah Ibrahim.

Menurut Ibrahim, kehati-hatian ini dipengaruhi oleh ketidakpastian global serta ekspektasi terhadap sejumlah indikator ekonomi yang akan menjadi penentu arah pemulihan ekonomi. Selain itu, pasar juga menantikan data pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal II 2026 guna melihat arah pemulihan ekonomi ke depan.