SOLO, KOMPAS.com - Makanan siap saji atau ready to eat (RTE) menjadi pilihan utama bagi jemaah haji yang berada di Arab Saudi, terutama saat menjalani ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Dengan jutaan jemaah dari berbagai negara berkumpul di lokasi tersebut, mencari makanan menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, makanan siap saji sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan logistik selama masa puncak haji. Salah satu produsen makanan siap saji untuk jemaah haji adalah PT Halalan Thayyiban Indonesia (HaTi) yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah. Katering haji yang dikelola oleh Puspo Wardoyo ini telah mulai mengirimkan makanan siap saji ke Armuzna sejak tahun 2023.
Tahun ini, PT HaTi mengirimkan 2,3 juta porsi makanan siap saji dan 300 ton bumbu khas Indonesia untuk dapur fresh di Arab Saudi. Proses produksi makanan siap saji ini telah dimulai sejak November 2025 dengan melibatkan 400 tenaga kerja lokal. Direktur Utama PT HaTi, Sugiri, menjelaskan bahwa mereka menerapkan standar keamanan dan kebersihan yang ketat dalam proses produksi. Para pekerja diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap, termasuk hairnet, masker, sarung tangan, dan penggantian sepatu. Makanan siap saji diolah dengan teknologi sterilisasi pada suhu 121 derajat Celsius dan tekanan tinggi, serta dikemas secara vakum untuk memastikan mikroba patogen mati, sehingga produk dapat bertahan hingga 18 bulan tanpa pengawet.
Menu Makanan Siap Saji untuk Jemaah
Sugiri menyebutkan bahwa ada berbagai menu makanan siap saji yang disiapkan untuk jemaah di Armuzna. "Menu yang dikirim itu ada rendang ayam, rendang daging, semur daging, semur ayam, gulai ikan, opor ayam, dan opor daging," ungkapnya. Produk makanan yang dihasilkan telah mendapatkan berbagai sertifikasi, termasuk halal dari BPJPH, izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), ISO 22000, dan persetujuan dari Saudi Food and Drug Authority (SFDA). "Kami ketika sudah ekspor sudah harus mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini PT HaTi sudah mengantongi paling tidak empat sertifikat," jelasnya.
Proses Pengiriman yang Efisien
Pada tahun ini, pengiriman makanan siap saji dilakukan dengan menggunakan pesawat. Hal ini disebabkan oleh ketidakmungkinan menggunakan kapal akibat situasi perang. Makanan dikirim dari Bandara Soekarno-Hatta dan tiba di Jeddah, kemudian dilanjutkan ke Mekkah. "Kami tahun ini menggunakan pesawat karena kapal kan baru susah ya. Ada perang ini semua pakai pesawat untuk menjamin kepastian barang itu sampai," ucapnya.
Puspo Wardoyo, pendiri dan pemilik PT HaTi, menjelaskan bahwa inovasi makanan siap saji yang tanpa pengawet dan tahan lama ini diciptakan untuk mengatasi kompleksitas penyediaan makanan di Tanah Suci. Dengan jutaan jemaah dari berbagai negara yang berkumpul, mendirikan dapur makanan menjadi tidak memungkinkan. "Penelitian hampir dua tahun lebih. Kebetulan Pak Giri ini pengalaman dari UGM, saya yang masak. Jadi, menggabungkan teknologi dan cita rasa," kata Puspo.