BREAKING Senin, 15 Jun 2026 20:09 WIB
Home / Kesehatan / Detail
Kesehatan Senin, 18 Mei 2026 10:11 WIB

Kedaruratan Kesehatan Global: Lima Fakta Tentang Wabah Ebola di Kongo dan Uganda

18 Mei 2026, 10:11 WIB 14x dibaca 3 menit baca cnnindonesia.com cnnindonesia.com
T
Taufik Pranata 14x dibaca · 3 menit baca
Kedaruratan Kesehatan Global: Lima Fakta Tentang Wabah Ebola di Kongo dan Uganda
Ilustrasi sampel virus ebola. WHO menetapkan Ebola di Kongo dan Uganda sebagai darurat internasional. Ketahui berbagai fakta seputar wabah ini. (Badru Katumba / AFP)

Pada hari Minggu (17/5), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa wabah Ebola yang terjadi di Kongo dan Uganda telah ditetapkan sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC). Wabah ini berasal dari Provinsi Ituri di Kongo dan telah mengakibatkan hampir 90 kematian serta menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Ibu Kota Kongo, Kinshasa.

Apa itu Ebola?

Ebola merupakan penyakit serius yang dapat berakibat fatal. Penyakit ini menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh individu yang terinfeksi. Menurut Africa Centres for Disease Control and Prevention (Africa CDC), virus ini juga dapat menular melalui kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi atau jenazah penderita. Gejala awalnya meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan tenggorokan. Seiring perkembangan penyakit, gejala dapat berkembang menjadi muntah, diare, nyeri perut, serta perdarahan baik internal maupun eksternal. Terdapat enam spesies virus Ebola yang diketahui, tetapi hanya tiga yang sering menyebabkan wabah besar, yaitu virus Ebola, virus Sudan, dan virus Bundibugyo.

Kronologi Munculnya Wabah di Kongo

Wabah Ebola pertama kali terdeteksi di Provinsi Ituri, Kongo, pada hari Jumat (15/5), dekat perbatasan Uganda dan Sudan Selatan. Hingga Sabtu (16/5), tercatat 88 kematian dan 336 kasus yang diduga terinfeksi. Wabah ini bermula di Mongwalu, sebuah daerah pertambangan yang padat penduduk, dan menyebar akibat tingginya mobilitas penduduk. Pasien pertama yang terinfeksi adalah seorang perawat yang menunjukkan gejala Ebola saat tiba di fasilitas kesehatan di Bunia, Ibu Kota Ituri, pada 24 April. Di Uganda, dua kasus terkonfirmasi juga dilaporkan, termasuk satu kematian di Kampala yang terkait dengan pelancong dari Kongo.

Makna Deklarasi WHO sebagai Darurat Internasional

WHO mengklasifikasikan wabah ini sebagai PHEIC, yang merupakan tingkat peringatan kedua tertinggi dalam regulasi kesehatan internasional. Meskipun demikian, WHO menekankan bahwa situasi ini belum memenuhi kriteria untuk dinyatakan sebagai pandemi. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa negara-negara tetangga berisiko tinggi terhadap penyebaran lebih lanjut karena mobilitas penduduk dan hubungan perdagangan. WHO meminta negara-negara tetangga untuk mengaktifkan sistem penanggulangan darurat, meningkatkan pemeriksaan di perbatasan, serta mengisolasi kasus yang terkonfirmasi. Mereka juga merekomendasikan agar kontak erat dipantau secara ketat dan individu yang terpapar menghindari perjalanan internasional selama 21 hari.

Seberapa Mematikan Virus Ebola?

Menurut WHO, tingkat kematian akibat Ebola bervariasi antara 25 persen hingga 90 persen, tergantung pada strain dan kondisi penanganan. Rata-rata tingkat kematian mencapai sekitar 50 persen. Untuk strain Bundibugyo, tingkat kematian diperkirakan berkisar antara 25 persen hingga 40 persen, menurut Médecins Sans Frontières (MSF). Meskipun Ebola sangat menular, virus ini tidak menyebar melalui udara. Namun, virus ini sangat kecil dan dapat menyebabkan infeksi fatal bahkan dengan jumlah yang sangat sedikit.

Rekam Jejak Wabah Ebola

Sejak pertama kali ditemukan di Kongo pada tahun 1976, negara ini telah mengalami setidaknya 17 kali wabah Ebola. Wabah terbesar terjadi antara tahun 2018 hingga 2020, yang mengakibatkan hampir 2.300 kematian. Beberapa kasus juga dilaporkan di Uganda, dan wabah terakhir tahun lalu menewaskan setidaknya 34 orang sebelum dinyatakan berakhir pada bulan Desember. Sejak penemuan pertama, Ebola telah merenggut sekitar 15.000 nyawa, hampir semuanya terjadi di Afrika. Situasi wabah Ebola di Kongo dan Uganda ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan global dalam menghadapi penyakit menular yang berpotensi menjadi darurat internasional. Kerja sama antara negara-negara dan organisasi internasional sangat diperlukan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas dan menyelamatkan banyak nyawa.